Rabu, 15 Agustus 2012

Aku (Jika Menjadi Aku)


Terlalu sering aku mengaku-aku, sudah saatnya aku berujar sebagai aku, maka hayati aku yang kali ini.

Aku akan sangat jujur pada aku-mu.

Aku bukanlah makhluk dingin, aku tak terlalu suka darah dalam daging yang kumakan.

Aku juga bukan makhluk panas, aku biasa menyeduh cokelat sebelum tidur.

Aku bukanlah makhluk terang, aku lebih suka menatap bulan dalam kesendirian.

Akupun bukan makhluk gelap, aku selalu butuh cahaya penuntun saat berjalan.

Aku bukanlah makhluk keras, aku bertutur dengan badan menunduk sambil tersenyum.

Dan aku bukan makhluk halus, aku bisa tergerak saat tersentuh.

Aku selalu bermimpi, bagiku hidup ini memang mimpi, kenyataannya adalah aku yang selalu sedang bermimpi.

Aku terus berpikir untuk aku, aku-mu, dan aku-aku yang lain, meski tak selalu harus berdarah.

Kadang aku bergejolak, beradu dengan aku-aku yang lain, tapi aku tidak akan selalu, aku selalu berusaha selalu bernafas untuk aku-mu dan aku-aku mereka.

Soal kepercayaanku, aku percaya aku tak abadi, bahkan dalam keabadian aku tak mungkin abadi. Tinggal bagaimana membuat hidup ini berarti.

Hubunganku dengan penciptaku?
Itu bukan urusan aku yang lain, bahkan aku-mu.
Aku memilih bungkam saat ditanya hal itu.
Aku lebih dekat dengan-Nya dalam urusanku.

Senin, 06 Agustus 2012

Masih Tujuh Tahun Lagi

Masih tujuh tahun lagi,
Saat anakmu mungkin sudah dua,
Saat kau sudah resmi jadi pengacara atau jaksa,
Saat kusadari kau cinta terindah.

Masih tujuh tahun lagi,
Saat giliranku menafkahi,
Saat keponakanku mungkun sudah delapan atau sembilan,
Saat aku menemukan tambatan hati.

Masih tujuh tahun lagi,
Saat aku bertemu denganmu,
Saat canggung menyapu rindu,
Saat dilema menerpa haru lembutmu.

Masih tujuh tahun lagi,
Saat Kau dipertemukan denganku,
Saat semua menjadi kepasrahan,
Saat mimbar dan lambaian gaun mesrah.

Sepertiku (Jika Menjadi Aku)


Aku melihatmu seperti melirikmu,
Aku mengataimu seperti mengutukmu,
Aku memperlakukanmu seperti membencimu,
Aku memimpikanmu seperti mendendammu.

Itulah aku,
Aku seperti aku,
Saat aku seperti aku,
Seperti aku yang aku-aku,
Seperti aku yang kuaku,
Seperti seperti aku yang aku,
Seperti aku yang seperti aku,
Seperti aku yang seperti kuaku.

Seperti itulah hanya seperti,
Seperti itulah, Sayang.

Defisitku (Jika Menjadi Aku)


Sadarlah,
Kita masih dalam masa integral,
Bahkan menyentuh marjinal terasa tak mungkin,
Jika masih tampak rupamu, ini akan semakin terjal.

Defisit!
Beberapa saat lagi akan melilit.
Ini semakin sulit,
Karna mereka pelit,
Mereka sengaja buat kita pailit,
Hingga tak mampu lagi berkelit.

Dengar anjing menggonggong,
Berarti sudah manjing,
Jangan makan lagi, bodong!
Seperti maling mencuri guci kosong.
Kau wartakan gonjang-ganjing pada selongsong.

Jika mau seperti yang kemarin hiduplah dalam mimpi!
Seperti kan hanya seperti,
Seperti yang tertulis sebelum ini.

Senin, 23 Juli 2012

Melati



Jika dulu aku melati bagimu, mengapa engkau memilih mawar?
Aromaku jauh lebih wangi, kau tahu kan?
Kau sudah merasakannya.
Aku ingat hirupanmu di atas kelopakku yang mekar saat itu.
Helaan napas menyesakkanku, meninggalkan aromamu di tubuhku.
Terasa masih kemarin sore, bahkan matahari belum sampai ufuk barat.
Angin baru saja membawa kabarku padamu, tertulis lepas melayangkan takdir.
Bukan maksudku menunjukkan padamu, kelopakku telah layu, putikku tak tahu harus menerima benang sari yang mana lagi.
Kamboja yang memiliki aroma menyengat, sama denganku, dia bilang kuharus terus tumbuh, hidup di jalan ini tidaklah mudah, aku harus selalu menatap matahari, dan bulan jadi penuntunku di kala gelap.
Suatu saat kan terjadi, meski kutahu yang baik mendapat yang terbaik, begitupun sebaliknya, aku terima, asal hanya aku, jangan yang lain, jangan kerabatku, jangan sahabatku.
Aku akan mengambil peran Pendeta dan Lalim bagi mereka.

Buku Harian Malaikat Terbuang (Bag. 2)



Demamku telah turun, aku mulai terjaga, sinar yang terang menghalangi terbukanya mataku.
Aku turun dari tempat tidurku, masih mengucek mata menuju kolam muka di belakang gubuk, terasa ada yang kurang.

Setelah meneguk susu sapi yang hendak menjadi yoghurt sejak kemarin, kubuka jendela, kesegaran hutan mengoyak pori-pori wajahku. Segarnya.

Sarapan hari ini roti gandum panggang dan telur mata sapi setengah matang, hanya kubumbui garam dan merica, aromanya cukup menggoda. Masih terasa ada yang kurang.

Sambil mengunyah roti panggangku aku menata kembali otakku, apa yang memaksa kukeluarkan dari brangkas memoriku?
Gumpalan ingatan yang rumit mendobrak otakku hingga tubuhku terjatuh, aku berusaha bertahan dengan ingatan akan orang tuaku, saudaraku, dan tentu saja seorang yang menganggapku kekasihnya. Sakit sekali, andai aku bisa menghapusnya, akan kuhapus yang terakhir. Dan masih terasa kurang.

Aku keluar dari pintu sambil menoleh ke belakang, ada sebuah jam matahari yang belum bekerja dengan normal, aku terbang setinggi 700 kaki, lalu melihat hamparan horison yang memisahkan langit dengan bumi, warna oranye menguasai angkasa di depanku dan biru gelap di belakangku, matahari belum juga menampakkan rupanya.

Aku melayang sebentar merasakan tubuhku hangat di bagian depan dan dingin di belakang, kucoba lagi mencari sesuatu yang terlupakan. Sesaat melihat ke bawah, anak-anak nephilium berlarian menuju sungai, mereka di suruh oleh ibunya untuk mengambil air. Jalanan mulai ramai dengan bergeraknya para troll jinak yang menarik kereta. Aku melayangkan pandangan ke kota yang dikelilingi gunung, semua ingatan yang tadi terkengkang melahap ketahanan pikiranku.
***

Aku mulai terjatuh dari ketinggian di bawah 500 kaki setelah bergelut selama 3 menit dengan ingatan itu, aku benar-benar tak sadarkan diri, aku bermimpi.

Aku bersama Chelvyá, peri kecilku, dia menarik tanganku, membimbingku menuju labirin bunga eidelweis setinggi 160cm, dia berhenti bersama turunnya lambaian rambut lembutnya.

Dia melepas genggamannya, memberiku satu isyarat, aku tak mendengar apapun karna suara angin sangat kencang menutup telingaku, dia berlari, aku berpikir dia memintaku mengejarnya, maka kukejarlah.

Mudah sekali, karna aku lebih tinggi dari labirin ini, aku masih bisa melihat rambutnya yang terbang saat berlari kesana-kemari. Jalur yang Ia lalui semakin rumit. Aku menjaga jarak dan tetap waspada, kulihat badai mendekat dengan kecepatan tinggi ke arah kami, aku mencoba menegurnya untuk ikut aku terbang menyelamatkan diri, hingga tampak Ia menoleh ke kanan-kiri karena bingung harus memilih jalan yang mana, aku mendekatinya tanpa suara.

Aku menepuk punggungnya, dia tak menoleh, tak ada gunanya memanggil namanya dengan suara angin sekeras ini. Kutepuk untuk kedua kalinya, dia masih enggan menoleh, tanganku masih di pundaknya, dan kami berada di tengah labirin yang cukup luas, kira-kira 1km persegi.

Sesaat terdengar teriakan histeris beberapa ibu-ibu yang memekakan telinga, kemudian jantungku berdegup sangat kencang melebihi hantaman kaki kuda Pensylvania saat dipacu pemburu hadiah. Aku memaksanya membalikkan badan, suara teriakan itu makin keras, makin sakit terasa, dan tubuhnya berbalik kehadapanku, wajahnya telah berubah, dia bukan Chelvyá, dia Royce, seorang malaikat terbuang yang ditolak permohonan izinnya untuk berdampingan denganku, namun dia masih mengharapkanku.

Aku membuka mata, terlihatlah tanah yang hanya berjarak 10kaki dari tempatku terjun dengan kecepatan tinggi, kecil kemungkinanku berakhir hidup, paling tidak aku menderita cacat permanen.

Aku menutup mata, berharap ini takkan lama, setelah itu.

Byuuuurrr...
Empat orang petani telah menahan gempuran gravitasi dengan air dan tenaga dalam mereka sehingga menimbulkan gaya pegas dan tubuhku mampu ditahan mereka.
Aku selamat.

Darah terasa memenuhi otak dan hidungku saat aku dibopong empat petani itu, aku dibawa ke rumahku.

"Tidurkan aku di tempat tidurku, dan terima kasih banyak, aku berhutang nyawa." Lalu mereka beranjak pergi melihat keadaanku membaik.

Agak sulit bergerak setelah mataku terbuka kali ini, aku memaksakan berjalan ke dapur, berharap ada sisa makanan karna bulan sudah hampir redup. Aku pingsan sejak pagi hingga tengah malam.
Tak ada makanan, aku keluar dari dapur menuju ruang tamu, lebih tepatnya ruang kosong, berharap ada sisa makanan ringan yang kudapat dari kota kemarin. Kunyalakan lampu.

Betapa terkejutnya aku melihat sosok Royce tertidur lelap di atas karpet rumput lautku. Dia menggenggam sekantong roti isi cokelat dan sebotol air soda, kenapa harus dia yang datang menolongku di saat aku sangat dekat dengan teman-temanku.

Jika kuambil, dia akan bangun. Jika tidak, aku harus pergi beratus-ratus blok untuk membelinya sendiri dan meninggalkannya sendiri.

Nurani mengatakan tidak, pilihan ini sangat sulit, perutku lapar, kesadaranku berkurang. Aku tak mau banyak berbincang di malam ini.

Kuambil saja pelan-pelan, berharap dia tak terjaga. Kuangkat tangannya dan melepas jari-jarinya, kemudian mengambil kantong itu, kemudian menggantinya dengan kantong yang lain sambil mengawasi apakah Ia akan terbangun kaget. Dia masih tertidur.

Aku membawa roti-roti itu ke ruang makan, dan memakannya dengan cepat.

"sudah kuduga kau kelaparan, ada sebotol air soda di dalam kantong itu, nikmatilah!"
Aku menoleh ke belakang, terlihat Royce menyibakkan kelambu sambil berjalan kembali ke ruang tamu.
"Terima kasih, tidurlah di kasurku, besok pagi saja kau pulang." Sahutku, mencoba bersikap baik.

"Tanpa kau suruh akan kulakukan, wanita gila macam apa yang hendak pulang di tengah malam begini?" dia masih menjawab, kupikir dia enggan menjawab karna kejadian yang menimpa kami.

Setelah melahap roti dari Royce, aku pergi ke kamar bermaksud mengambil bantal kayu sponku dan selimut.

Dia memakai setengah dari keduanya seakan memberiku ruang untuk tidur di sampingnya. Mana mungkin.

Kukunci pintu depan dengan berbagai jebakan sekedar menambah rasa aman, lalu kembali ke tempat tidur, aku hanya duduk, tidur seharian membuatku kehilangan minat untuk tidur lagi. Apalagi ada Royce di sampingku.

Selang lima menit berlalu, kesadaranku memudar, aku merasa dingin yang luar biasa, aku terpaksa berselimut bersama Royce. Sesaat kemudian panas menerjang, tak sanggup aku menahan, kubuka seluruh penutup tubuhku. Darah memuncaki kepalaku, perasaan aneh mulai muncul, bulu romaku terasa lebih sensitif, semua bagian tubuhku menegang, Royce mendekapku di tempat tidur, dan.

***

Ayam berkokok.
Aku membuka mata, kusadari aku tak berbusana, baju dan celanaku tergeletak di bawah ranjangku, tak kutemui sosok Royce di sampingku, hanya sepucuk surat yang diselipkannya di bawah bantal, kubuka sepucuk surat tersebut.

"Yang tercinta, Ayrton Ray.

Masa demi masa t'lah kita lalui bersama, bahagia dan sedih, senang dan sakit. Bayangan masa depan yang kuidamkan kini penuh penyesalan, tak ada gunanya memaksa, kau dengan kedok orang tuamu t'lah mencintai yang lain, kau tak akan lari bersamaku.

Ray, maafkan aku, aku selalu ingin hidup denganmu, dengan keadaan seperti biasa tak akan mungkin, maka aku telah menyiapkan segalanya, aku akan membesarkan bakal janin ini, lalu ku rawat bakal bayi ini, dan kutemani tumbuh-kembangnya agar aku tetap merasa berada dekat denganmu.

Ray, aku mencintaimu dengan segala semesta alam, menyayangimu dengan luasnya lautan, dan membutuhkanmu layaknya bumi mengitari matahari.

Selamat tinggal.

Yang mencinta,
Royce Ashtiná."

"Sial, aku terjebak!" Dia memasukkan obat bius di air soda yang kuminum, tanpa sadar aku telah menghamilinya.

Bagaiman jika dia menceritakan semua ini kepada orang tuaku, saudaraku, apalagi penghulu malaikat. Mereka tak akan segan memenjarakanku seumur hidup, perzinahan di kalangan malaikat adalah hal yang terburuk dari yang terburuk.

Bagaimana jika anaknya lahir dan tak tahu siapa orang tuanya?
Bagaimana jika sang anak tahu kebenaran ayahnya tak mungkin mengakuinya?
Bagaimana aku bisa hidup tenang di antara semua masalah ini?
...

Roooooooyyyce...!!!

Jumat, 20 Juli 2012

Toilet



Duduk bersimbah peluh dalam bilik kegelisahan. .
Menatap atas tanpa batas. .
Melihat bawah hanya terpana. .

Jatuh satu demi satu kehangatan dari dalam diri. .
Melihat ke depan pintu kebahagiaan. .
Melihat ke belakang tembok tebal. .

Ku tekan tombol penghapus kenikmatan. .
'tuk membersihkan sisa hak orang. .
Karna tak layak ku nikmati semuanya. .

Ku basuh sambil ku seka. .
Hingga tak tersisa kebusukan di jiwa. .
Dan nyawa terasa berjaya. .
Haaahhhh....puasnya...

Orang(wanita) Malam



Engkau melayap di tengah malam
Meraup harta dari jalanan

Jika setiap mengadu semakin diadu
Jadi domba berselimut madu
Memang manis
Memang gurih
Dengan potongan tipis mengembang-mengempis
Hati terasa pahit tak digubris

Sampai kapan hidup merana di rana warna yang kelam?
Kenapa tidak mencoba menyalakan lampu atau bangun di pagi hari yang cerah?
Biar embun menyapu dosamu
Meredakan api hawa nafsumu

Pelayat telah menunggu di rumahmu
Bersiap mengadukan ibadahmu

Hingga nanti terbangun di hari tanpa malam
Kau akan mendapatkan segalanya
Jalanan itu takkan kau lihat lagi
Kasur butut tempatmu bergelutpun raib
Akan nyatakan segala ibadahmu di malam hari

Buku Harian Malaikat Terbuang


Sorak sorai langit bergemuruh mengiringi kami, pejalan yang mencari padang rumput penuh ceria.Hujan tidak membiarkan kami kuyup, hanya tetes bunga air menyentuh wajah dan tangan, Aku di depan mengepakkan sayap agar ia terhindar dari serbuan angin.

Rambutnya terbuai mesrah melambai-lambai ke samping kiri, tak terasa jantungku hampir diraihnya.
Aku menolak pada diriku, mencoba menyadarkan peranku sebagai malaikat terbuang yang butuh pengampunan dan tak ingin dijebloskan dalam neraka.
Tekanan udara semakin rendah kala kami berdiri di antara gunung dan dataran tinggi, saatnya berjalan menyusuri lembah yang dituju.
Dingin es yang membeku kami nikmati sambil berjalan mengitari lembah yang masih sunyi karena kami terlalu pagi.
Ada beberapa Nephilium muda yang berpapasan dengan kami, Ia hanya menebar senyuman.
Muncul sedikit kekhawatiran, apakah dia merasa tidak nyaman?
Masuklah kami dalam gua sebuah gunung yang tak terlalu tinggi, keaadan lebih hangat, Aku membuka mantel yang menempel di kulitku sejak fajar, sekaligus mengenalkan aroma tubuhku yang sesungguhnya.


Menikmati tanjakan dan turunan dengan sendau-gurau, melepas penat, sementara melihat para nephilium remaja dan manusia berantri untuk mendapat izin masuk gerbang kegelapan.
Aku berputar-putar mengawasi, apakah kami dikuntit?
Tidak, kami beruntung hari ini, tak ada rombongan penghulu malaikat yang beroprasi di sisa bulan ini, mereka bersiap menyambut bulan besar dan karnaval yang diikuti anak dan istrinya.
Pintu telah terbuka, Aku membiarkannya melewati Pos Goblin Penjaga yang dengan lengah menggeledah bawaan kami.
Aku membawa dua botol kecil air jeruk dari hutan Cafare, dekat dengan Countreze Tikato, ,maka kami diperbolehkan masuk.


Di dalam remang-remang cahaya langit kami menaiki tangga dan duduk di puncaknya.Hatiku terrasa bergetar.
Setiap kumenoleh ke arahnya, wajahnya bersinar.
Dengan rambut terurai panjang namun rapi dan dengan pakaian khas Nephilium remaja.
Setauku dia ras murni tanpa campuran darah manusia.


Betapa dia sadar pandanganku adalah curiga, dia hanya melayangkan senyum.
Aku berandai dia juga seorang malaikat,Aku tak perlu dihukum menjaganya,
Aku bisa meminangnya,
Tapi tidak, aku akan melanggar sumpahku jika aku jatuh cinta lagi.
Dia begitu menikmati pemandangan indah yang terhampar dari puncak, pertarungan antar ksatria dengan tangan kosong sesuai keahliannya.
Aku iri, rindu masa-masaku sebagai malaikat suci, kini tiada lagi.
ekali lagi, Aku menikmati cahaya hangat itu, lembut menyeka mukaku yang kumal karna debu.
Dia menatapku, kami terdiam.
Apakah akan terjadi sebuah dosa besar yang apabila penghulu malaikat melihat, mereka akan menghukumku lebih berat lagi.
Aku memalingkan muka dengan cepat mengambil senyum, berharap dia sadar maksudku.
Dadaku semakin bergejolak saat tangan kami meremas rumput yang sama bersebelahanIngin kuraih dan kugenggam.
Lagi-lagi bayangan penghulu malaikat yang bermaksud menikmati sidang perkaraku datang lagi.
Aku merelakan anak panah Cupid yang terjatuh tanpa sempat terlontar, Meski menyisakan sesal.


Perjalan kami lanjutkan, tanpa diminta sudah kewajibanku mengantarnya pulang.
Kusadari, dalam sehari ini sangat sulit mengobarkan kebahagiaan di wajahnya, aku telah mencari celah yang dapat kumasuki untuk sekedar menanam benih agar Ia tak mengadukan yang tak pantas kepada penghulu malaikat, meski Ia bukan seorang pengedu, Aku takut.
Jalanan semakin ramai, ini adalah awal hari libur menjelang bulan besar, ada beberapa penghulu malaikat yang kukenal mengawasiku, mereka tahu aku sedang menjaga peri kecil ini, maka mereka sedikit menjaga jarak.
Aku tak memakai mantelku lagi, dinginnya langit masih menghargaiku, dan aku tak ingin identitasku mudah dikenali, meski sayap tak dapat kusembunyikan lebih dalam.Kami pulang, aku sedikit bingung dan tersesat karna jalan yang kami lewati berbeda.
Kami berputar-putar di sekitar gunung yang tak kukenal.
Dia benar-benar hafal lajur ini.Tak heran, meski dia masih muda, dia cukup tangguh dan berani mengarungi hari tanpa beban.


Aku tak mau mengantarnya hingga gelap, kaum vampir tak merelakan nephilium muda berkeliaran, apalagi aku hanya sendiri, tak akan mampu melawan makhluk buas yang biasa menyerang beregu.Butiran es telah jatuh, tanda bulan besar akan hadir dalam beberapa hari ini, suhu tubuhku naik, mencoba mengurangi efek dingin bunga air.
Kusadari waktuku bersamanya hanya tinggal beberapa menit.Dilema.Aku puaskan detik-detik ini, aku menoleh ke belakang punggungku, lagi-lagi aku hampir menerima tusukan panah sang Dewa CintaDewa Cinta tak perna mengira-ngira saat memilih targetnya, mereka hanya beralasan untuk mendamaikan dunia, tak peduli kadang cinta dapat menjadi alasan terbersitnya niat jahat. Manusialah buktinya.
Hanya terpaut beberapa menara dari kastilnya, aku lapar, hawa sejuk dan dingin memaksa metabolisme bekerja keras, aku memilih roti isi daging untuk menjaga tubuhku tetap hangat, tentu aku juga membungkuskan untuknya


Beberapa saat sang juru masak mengatur kandungan masakannya, aku bertanya kepada si peri kecil, mengapa memilihku menemaninya ketika banyak pilihan yang lebih elok, baik, dan tangguh untuk menjaganya.
Hatinya yang bersih tak sedikitpun teruji, dengan tenang menjelaskanya, sangat ringan, hampir tak ada alasan kuat, tapi aku tak pernah meragukannya.
Seraya meminta izin, kunikmati pemandangan yang jarang kutemui, dia tersipu malu, rambutnya tak lagi terurai karna kuncitnya.
 Matanya bersinar penuh kejujuran.Garis tawa yang selalu kurindukan.


Semua berakhir di dekat persimpangan dan jalur kereta di atasku, dia melambai melantunkan kata terima kasih dengan lembut, andai dia tau aku tak ingin pergi.
Aku membalik badan, tersenyum, dan melambai balik kepadanya penuh rasa tak rela meninggalkannya, meski kutahu dia akan aman di antara kehidupan pribadinya.


Aku kembali ke sebuah base tempatku tinggal sementara ini, karna aku tak punya tempat tinggal, aku malaikat terbuang.


Ada hal yang benar-benar terlupakan dan naif jika kuingkari, saat aku hanya khawatir Cupid melontarkan anak panahnya ke punggungku aku tak menjaga bagian tubuh depanku.dan panah Cupid telah menancap di jantungku sejak awal hariku bersama sang Peri kecil.

Jumat, 22 Juni 2012

Mantraku

Aku
Uka kau
Kau uka aku
Uka kau
Aku

Kau
Uka aku
Aku uka kau
Uka aku
Kau

Uka
Kau aku
Uka aku kau
Aku kau
Uka

Sakitku

Benar-benar kegelapan cinta.
Tusukannya terlampau dalam.
Mana bisa kuhindari, rasa sepi menggerogoti, hati ini sunyi.
Tak rela, sumpah setitikpun tak ada keikhlasan walau baru kemarin belajar.

Hey, kalau tidak cinta, disebut apa lagi ini?
Bayangan buruk, biadap, beringas lelaki itu mencumbumu tak mau pergi.
Aku menikmatinya disaat makan hingga muntah, di saat merenung hingga melamun, dan di saat terpejam hingga terjaga.

Aku melawan kelemahan, semakin melawan aku semakin hancur.
Aku menghalau kepedihan, semakin menghalau aku semakin rapuh.

Jikalau garis hitam tebal dapat terhapus, maka nama dan angka akan menyatu kembali.
Aku berserah sekarang, bukan menyerah!

Saat kau membaca ini, tak kuharap kau bersedih, prihatin, dan merana melihatku.
Aku berserah untuk menang.

Sejatiku

Petang menyambar kulitku
Aku duduk menanti kabar baik
Tiba-tiba tersirat di antara bayang-bayang kebesaran
Menunduk malu melewati lorong kecil istanaku
Peri kecil cantik yang menyembunyikan aurora di balik wajahnya

Aku menanti saat yang tepat
Kabarkan kepada angin malam
Kepada tuhan
Aku menginginkanmu
Bibirku kaku

Dadaku melantunkan melodi kisah cinta dengan ketukan 4/4
Lirik-lirik lembut mengalir dalam angan menjebloskan aku dalam penjara imaji
Meruntuhkan semua perih

Para penghulu malaikat menatapku keji
Aku melihat potongan-potongan sayapku di balik tubuhku
Aku tak pantas lagi menyandang nama besar kerajaan matahari
Butuh seumur hidup untuk mekar kembali

Hanya
Dengan kelemahan aku menyayangimu
Dengan kerendahan aku mengharapkanmu
Dengan harapan aku mencintaimu
Takkan mampu mengimbangimu

Sabtu, 03 Maret 2012

Selingan

Kali ini saya bercerita tentang percintaan pribadi ...hehehehehe.

Aku adalah orang yang arogan, semua orang yang dekat denganku pasti tahu itu. Tapi,  aku tidak suka dicela bukan karena  aku sok dan tak mau disalahkan, aku memang tak bersalah. Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan disaat tertentu, seketika itu  aku pasti berubah, dan di keadaan yang lain  aku juga akan berubah.

Ini sebuah kisah yang mungkin akan selalu kukenang, karena setiap permasalahan yang terjadi  aku  selalu benar, mungkin hanya menurutku, tapi kalian akan mendukungku.

Setiap percintaan yang kualami selalu  kurangkai seromantis mungkin, bukannya sekedar akting,  aku hanya ingin membuat pasanganku senang dan merasa beruntung bisa menjadi pacar saya, kali ini aku melakukannya lagi. Dia begitu senang dan terpukau padaku, aku sukses besar.

Aku selalu jujur pada pasanganku, meskipun kebohongan dibutuhkan di saat genting, setidaknya aku berusaha mempertahankan hubungan ini sebaik-baiknya. Namun, tahulah gadis, dia tak akan percaya kata-kata yang terucap dengan kadar 100% kejujuran, mereka pikir lelaki tak ada yang benar katanya.

Jika diamnya saja aku dapat mengerti kemauannya, maka saat berbicara aku sangat mengerti dirinya, tapi kenapa dia selalu menungguku bicara? Diamku tak pernah ada artinya. Diam bukan berarti tak bergerak sedikitpun, yang kumaksud adalah tak berkata. Aku dapat menerimanya, kurasa kepekaannya telah ku-overlap beberapa kali.

Kadang kala hubungan yang baik tak harus selalu rukun, begitupun hubunganku saat ini, kami membumbuinya dengan berbagai pertengkaran, bukan sebuah pertengkaran bodoh, tapi lebih tepatnya adu argumen yang menghasilkan pengetahuan lebih di antara kami. Sesekali pertengkaran bodoh juga terjadi, hanya sebagai gurauan. Pertengkaran kami kebanyakan diawali oleh perbedaan pendapat dan ideologi (saat itu pacarku lebih muda dari aku). Aku selalu menang, pengalaman hidupku jauh lebih banyak darinya, aku berlari, terpeleset, jatuh, dan bangun lebih sering darinya.

Sedikit stimulan untuk hubungan kami adalah kuliner, dari batagor hingga mi ayam, dari jus alpukat sampai coklat. Hal-hal seperti ini kadang berhasil menjadi ramuan manjur untuk menambah kemesrahan ataupun pelebur amarah.

Sayangnya semua tak seperti yang kupikirkan, setidaknya kugunakan lebih banyak logika dalam percintaanku, seperti yang kukatakan beberapa hari yang lalu; memahami cinta hanya dari perasaan atau tanpa logika adalah kebodohan mutlak.

"Aneh! dasar aneh, pemikiranmu terlalu jauh, jangan suka membesar-besarkan masalah!", katanya.
Nah, aku membangun hubungan dengan keseriusan dan perhitungan yang setepat-tepatnya, maka dari itu aku selalu berpikir jauh, setiap kejadian yang terjadi dan menimbulkan polemik di antara kami selalu kupikirkan matang-matang, aku tak ingin setitik masalahpun menjadi deposito yang akan menumpuk jika ditarik 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun mendatang.

Aku selalu berpikir terbuka, dia bilang aku lepas tangan. Aku berpikir tertutup, dia bilang aku kolot.

Sampai pada ujung kesabaranku,


Hal-hal inti yang memicu pertengkaran dan opini:
1. Kurangnya komunikasi:
1.1. Menurutku, komunikasi yang intens memang penting, tapi kepercayaan jauh di atasnya. Aku punya kegiatan yang wajib dan lebih penting, mana mungkin bisa setiap saat menghubungi, aku harus professional terhadap pekerjaanku.
1.2. Menurutnya, tak bisa hidup tanpa komunikasi yang intens karena dapat menyebabkan kecurigaan yang mendalam, tak peduli sesibuk apapun harus tetap berkomunikasi.
2. Kesibukan
2.1. Menurutku, kesibukan atau kegiatan sangat penting, apalagi kegiatan yang menunjang kesuksesan masa depan.
2.2. Menurutku, kesibukan yang bermanfaat adalah bergabung dengan organisasi, UKM(Unit Kegiatan Mahasiswa), kelompok belajar, dsb. Bukan ketemuan dengan personil band yang notabene sang mantan, dengan alasan ingin melihat perkembangan skill-nya, menunjukkan album, ataupun beralasan akan memesan sandal untuk beberapa teman ceweknya(maksudnya biar tahu kesukaan cewek). Coba pikir alasan yang terakhir, kenapa si cowok memilih mengajak pacar saya untuk memesan sandal untuk teman-temannya? kenapa tidak mengajak pemesannya saja? (yang bodoh siapa?)
2.3. Menurutnya, "katanya kamu mau aku cari kesibukan? kesibukan menurutku ya seperti itu, mengisi waktu luang saat kamu tak ada". (Cerdas sekali)

Kalau sudah begini mau apa lagi? Aku kehabisan akal untuk mempertahankan ini. Kuberi dia pilihan; kulepas dia sementara, biar dia tahu mana yang lebih baik, denganku atau tanpaku.

Aku kembali menjadi burung gagak yang hinggap di sebuah jendela dengan sebuah pot berisikan Mawar putih yang cantik.

Selasa, 21 Februari 2012

Sepenggal Kisah Kupu-kupu: Awal dan Mungkin Akhir

Gambaran, kata yang tepat untuk mengawali semua yang akan mengikuti. Ini adalah awal yang saat itu kukira akhir. Menjalaninya benar menyenangkan, melewatinya sungguh menyesakkan. Tak ada yang kumengerti dari semua itu, semoga aku dapat petunjuk.
Aku duduk di bangku depan kelasku, saat jam pelajaran kosong senada dengan pikiranku. Kesepian karna teman akrabku sedang memasuki masa rajinnya di sekolah, padahal tak seru jika masa sekolah menengah hanya untuk belajar. Aku menemukan tantangan, sejenak terpikir itu tidak pantas disebut tantangan karena rasa itu benar-benar suci. Kupandang seorang gadis, tak kusebut bidadari karna hanya melebih-lebihkan, tapi dia adalah Berlian.

Bukanlah cinta pada pandangan pertama, aku tahu itu. Selama hidupku aku tidak mempercayai kalimat itu, kupikir itu adalah sebuah omong kosong, cinta pada pandangan pertama adalah birahi, busuk meski sedap di luar. Maka kunyatakan ini bukanlah cinta.

Sempurna sekali, malam ini aku tak bisa tidur seperti biasa, kenyamananku lenyap di hasut pikiranku yang hanya terfokus pada Berlian. Pikiranku lebih terbuka, aku bisa merencanakan semua yang akan kulakukan esok untuk sekedar bercengkrama dengannya, mungkin ada sekitar satu juta langkah ke depan. Dan malamku berakhir di titik pada angka III di jam dinding kamarku.

Tepat seperti perkiraanku sebelum terlelap, aku akan bangun saat matahari hampir setinggi gunung Mahameru.

Yah, sepatu yang kupakai tak lagi sepasang karna sepasangnya lagi tertahan di pos satpam. Mana mungkin aku menemui Berlian dengan keadaan seperti anak pemulung yang baru menemukan sepatu dari keranjang bapaknya. Seonggok gengsi memenuhi perasaan yang belum pernah kuturuti. Aku melawan rasa takutku dengan didorong rasa gengsi yang lebih takut malu jika bertemu dengan Berlian dalam keadaan seperti ini. Kucuri sepotong sepatuku yang lain disaat si satpam lengah, kini aku siap bertemu dengannya.

Seorang sahabat tak akan meninggalkan temannya dalam kesusahan, pernyataan klasik itu seolah menjadi kebenaran yang mutlak pada waktu itu. Sahabatku, Suki (bukan perempuan), siap menghantarkanku pada pujaanku, lebih tepatnya aku berjalan sendiri menapaki hamparan paving dan dia hanya memelototiku. Bagus.

Ini adalah kesempatan besar, hanya aku yang berada di Toserba usaha sekolah ini. Sudah hampir satu tahun aku bekerja disini, namun baru kali ini merasakan manfaat terbesarnya. Apabila dia datang, dengan leluasa aku bisa melayani segala yang dia minta.

Dan dia datang, segeralah keringat mengucur deras memenuhi selakanganku karena yang di tangan dan dahiku telah kuusap dengan sapu tangan, dia tak sendirian, tapi aku merasa kami hanya berdua, tatapan tajam kami beradu saat dia berjalan semakin dekat, aku yakin dia merasakan apa yang kurasa. Sungguh egois, aku tak menghiraukan yang lain, aku hanya menghormatinya, melupakan kodrat bahwa aku harus melayani setiap pelanggan dengan penuh suka cita. Aku berhasil menarik perhatiannya.

Hari demi hari terasa sama, namun bisa dibilang ada kemajuan dalam diriku, aku jadi lebih semangat bekerja disaat jam istirahat sekolah, tentunya juga lebih sering bertemu dengannya. Walaupun posisi kami sangat berbeda, aku di dalam dan dia di luar, aku memberi, aku meminta, dia memberi, dan kadang aku memberi.

Malam kuhabiskan hanya untuk berpikir, bukan untuk pelajaran sekolah, aku menuju kehancuran.


Senin, 06 Februari 2012

Puisi (7)

Hedonisme Modern

Sikap yang sangat aneh
Lebih dingin daripada salju
Kadang panas bagai padang pasir
Membuatku merasa hina

Setiap ku mencoba
Tak pernah ada beda
Hanya lara yang terasa
Dan semakin membuatku hancur

Cuaca saat ini sangat hangat
Pie ini tampak lezat
Menciumnya saja sangat menyenangkan
Namun ini tak bertahan lama

Hedonisme orang tua t'lah menghancurkan kita
Mereka lupa akan cinta
Apa kau akan tetap setia?
Meski kaki slalu mencucurkan darah
Sampai jantung t'lah terhenti

Harapan hanya angan kosong
Tanpa cinta yang sepenuhnya
Tercurah untuk seorang kekasih
Jangan menahan rasa itu

Lebih baik kau segera tentukan
Antara cinta dan dunia
Ketenangan atau keserakahan
Daripada hanya tergantung di jemuran usang

Puisi (6)

Hari Kehilangan

Hari-hariku tetap hampa semenjak hari itu
Hari dimana dia tinggalkanku
Hari itu ku sadari kesalahanku di hari yang lalu
Hari dimana ku menyia-nyiakan dirinya

Kehilangan sangat menyedihkan
Kehilangan membuahkan penyesalan
Kehilangan menyadarkan kekhilafan
Kehilangan membuat ingin 'tuk mengulang

Puisi (5)

Intervensi Masa Depan

Dengan segala bentuk motivasi
Berlawan arah dengan tujuan
Ingin diri membangkang
Merasa benar di setiap alasan

Benar apa yang mereka katakan
Tak seharusnya ego menguasai diri
Tinggi hati akan menghancurkan
Dari sisi yang sangat halus

Turuti setiap bantuan
Berat berjalan paksa berlari
Menuju esok yang cerah bagi semua
Sebuah intervensi terhadap masa depan

Puisi (4)

Semakin

Semakin dilihat
Semakin ngeri, mengerikan
Hingga tak sanggup berkedip mata
Membuat kata kecil manis didengar

Semakin mendekat
Semakin geli, menggelikan
Hingga menggelitik ke dalam jantungku
Membuat letupan kecil manis dalam dada

Semakin diacuhkan
Semakin menjadi, menjadi-jadi
Hingga tak sanggup pergi
Membuat penjara kecil manis dalam hati

Semakin menjauhi
Semakin rindu, merindukan
Hingga menusuk ke dalam jantungku
Membuat goresan kecil manis berarti

Semakin aneh
Semakin indah
Semakin sayang
Semakin ingin memperjuangkan.

Puisi (3)

Menyulam dalam masa pembelajaran
Bertemu di setiap kesempatan
Dia mengalir di depan dua mata
Menimbulkan rintihan sambil meronta
Kau lihat itu sebagai tanda

Hanya Ada Satu

Mata-mata sahabat
Menyela takdir yang tertulis indah
Persaudaraan tak diberi tahu olehnya
Hingga mencari ke rana warna
Kau rasa itu bangga

Tak peduli harus menanti zaman
Yang kian lama kian mencekam
Semakin tertanam dan bertunas
Untuk mencari sebersit sinar
Kau tiup kesedihan mereka

Sebagai saudara hanya bisa memberi pilihan
Meskipun akhirnya tak dihiraukan
Selama itu bisa menjadi kebahagiaan
Menarilah sehingga kau lepas

Mungkin memang hanya satu
Atau ada seribu kupu-kupu lepas di taman
Namun memang hanya satu
Pilihan tak mungkin salah

Jika sulit kau pahami arti kataku
Cobalah bertanya pada hatimu
Hanya satu yang ku mau
Suatu saat kita menari dengan tertawa lepas
Di bawah pelangi kejayaan

Puisi (2)

Eternal Promises

Well, now I standing beside you
Even the night's creaping into my eyes
And the fog follows behind
I swear,
No one's gonna break us

Let me take your hand
'Cause I'll run away from this darkness
I don't wanna let you down
I don't wanna pass you by
I just wanna be with you

If the sun shine brightly
Tomorrow we die
I'll be missing the memories
Together we'll start again
In the eternity life

Prosa (1)

Mencintai Teman

Sungguh malang nasibku
Merasa cinta pada temanku yang juga dicintai temanku

Jikalau terjadi, mampuslah diriku
Akan hilang kejantanan ini
Tahu kenapa?
Karna aku takkan merebut milik temanku
Tapi soal kompetisi aku takkan mengalah
Karna memang sudah jadi kesenanganku
Meskipun aku lebih memilih diam dan menunggu

Aku tak mau menjadi pacarnya
Karna menurutku mencintai tak harus menjadi pacar
"Pacar" tak lebih dari sebuah status yang rentan berubah menjadi "mantan"
Lebih baik biarkan masing-masing hati berbicara dengan caranya sendiri

Puisi (1)

 Sapa Siapa

Suara yang sangat indah
Berhentilah berteriak
Tak ada yang ingin mendengarmu

Siapakah dikau?
Sangat cantik
Ingat siapa
Siapa kau sebenarnya?

Bersembunyi dalam cermin
Menyelinap dalam ingatan
Bersembunyi dari keluargamu
Mereka tak ingin mengetahuimu sekarang

Pada setiap lubang dalam jiwa kita
Tiada perasaan
Siapakah dikau?
Yang sangat cantik

Sabtu, 28 Januari 2012

Sepenggal Kisah Kupu-kupu

Sudah satu tahun aku lulus dari SMA, padahal sudah hampir empat tahun, tapi kehampaan ini tak kunjung pergi. memang belum saatnya kupu-kupu ini terbang kembali.
Kusebut diriku kupu-kupu karna tersirat jiwa yang bebas dalam hatiku, berhak memilih udara yang kuterbangi, namun setelah mati tiga setengah tahun yang lalu, aku kembali menjadi telur, berharap akan segera bertransformasi kembali menjadi kupu-kupu yang dapat terbang bebas dan memilih bunga yang tepat untuk dihinggapinya selama hidupnya, sekali lagi namun, aku tak dapat lepas dari kepompongku, suatu belenggu darinya, bunga yang kupuja tiap hembusan nafasku, yang kuingat dalam gegap gembiraku, bunga yang telah memilih kupu-kupu yang lain.

Sejenak aku berani mencoba, walau kutahu rasanya takkan sama, bahkan lebih buruk. Tak seprti bunga Berlian itu, bunga yang lain tak memiliki pantulan sinar maupun karat yang membedakan cantiknya. Sebuah kesombongan tuk mencintainya hingga kini.

Sebuah pagi yang cerah, aku disibukkan dengan pekerjaan ringan, usaha keluargaku. Benar, aku belum kuliah, memilih untuk mengabdi karena ujian masuk perguruan tinggi t'lah ditutup, aku gagal pada tes pertama dan ragu lulus dari yang ke dua, maka aku menunggu tahun depan agar dapat mencoba yang pertama lagi. Si Cantik datang, namanya Cantik sejak lahir dianugerahkan oleh bibi-ku, dia membawa temannya, tapi tidak dengan dijinjing. Fokusku bukanlah padanya, tmannya sukses mengalihkan pandanganku. Wajahnya sangat bulat, matanya indah merona, bibir tipis terangkat seolah ingin beradu cumbu, laki-laki mana yang tidak tertarik dengan sejumlah pheromone yang jatuh dari tubuhnya, sungguh kukira aku telah terlahir kembali.

Tanpa terasa sayapku telah terkembang indah, aku rasa aku siap menerbangkan kembali jiwaku yang kosong. Ratu, dia bunga pertama yang ingin kucoba hisap madunya, menawarkan ramuan manis yang memabukkanku, seketika itu aku tak sadarkan diri, dia pasrahkan segalanya untukku, dia berikan secara PMR yang membantu korban bencana alam (baca: sukarela). Namun bukan itu yang aku inginkan, yang aku inginkan adalah Madu ketulusan, sebuah wujud cinta abadi nan elok, indah merekah menebarkan wangi dalam jiwa, mensucikan hati, dan terjaga rapat. Apa ada kata yang tepat selain 'gagal'?

Kutinggalkan Ratu untuk terbang berkelana kembali di udara segar kebun bungaku. Hingga aku memilih terbang keluar dari pagar rumahku, seolah tiada lagi yang seperti bunga berlian itu di sini. Ku jalani setiap waktu dengan membasuh mataku dengan suguhan panorama indah kota-ku yang dikelilingi gunung merapi yang tinggi menacap di langit, aku tak bisa membayangkan jikalau semua gunung itu meletus secara bersamaan, seluruh kota ini dan kota-kota tetangga pasti menjadi hamparan debu menyelip di antara pasir.

Setelah hampir 30 kali lebih lama dari masa hidup kupu-kupu aku berkelana mencari bunga yang tepat untuk kuhinggapi, aku pulang ke kota lamaku. Aku teingat masa sekolahku di SMA, kala itu aku bertemu seorang gadis, juga teman dari si Cantik, dari sebuah jejaring sosial, dan aku tahu dia juga menyimpan rasa kepadaku karna sejatinya aku yang tertarik lebih dulu kepadanya, namun belum sanggup mengungkapkannya, seketika itu aku memiliki angan-angan untuk kembali mengenalnya, mencoba merayunya untuk kembali beradu untaian kata kasih sayang layaknya di masa SMA dulu. Gadis itu bernama Lily, cocok dengan filosofiku terhadap bunga yang menggambarkan seorang gadis, dia masih di kota ini, sejengkalpun tak beranjak dari sejak kami pertama kali bertemu.

Kuawali masa-ku dengannya dengan sebuah pesan singkat yang dengan cepat ia balas, dia yang semula ragu akan perasaanku padanya, sedikit demi sedikit luluh atas pengakuanku tentang sulitnya lepas dari kepompong masa laluku, lalu kubawa lari ia mengitari kaki gunung merapi yang terdekat dari kota tinggal kami, kubuat dia merasa senyaman mungkin bersamaku, dan akhirnya kunyatakan perasaanku padanya. Sangat simple juga mengena. Di hadapan air terjun yang menampar kerasnya batuan vulkanik bekas letusan gunung merapi kami menyaksikan cinta kami.

Beberapa momen indah semerbak merasuki jalan ceritaku, berharap ini dapat selamanya kurasakan, tapi tidak juga. Hanya dengan satu deburan ombak, remuklah karang yang t'lah kurawat bersama Lily. Ombak itu ialah teman, aku menyesali betapa bodohnya aku yang tak menyadari ini sebelumnya.

Lily adalah bunga pujaan teman baikku, dia kupu-kupu yang lebih segar dariku, namun keberhasilannya jauh di atasku. Aku merasa hina telah merebut pujaan hatinya, bukannya aku tak mau mempertahankan cintaku dan cintanya, namun rasanya pasti sungguh sakit jika aku yang berada dalam posisinya berpijak. Anganku memintaku 'tuk melakukan sesuatu yang dapat mensterilkan ini semua.

Sesuai rencanaku, tahun berikutnya aku tidak gagal lagi dalam tes masuk universitas. Momen yang tepat, aku harus meninggalkan Lily bersama kota tinggalku dan seorang sahabat. Aku tidak tahu apa cara ini benar, namun saat ini hanya ada satu pilihan, maka aku memilihnya. Semoga dengan ini aku berhasil melepaskan belenggu rasa bersalah atas mereka berdua.

Kini aku memulai kembali kehidupanku di kota yang baru, dengan teman baru dan kehampaan yang baru. Beberapa cerita tentang Berlian akan terus tertulis, mungkin di lain waktu.

Sabtu, 14 Januari 2012

Kliwon, 17 Sapar 1945 Jawa


Kamis, 12 Januari 2012 Masehi


19 Xin Mao, Shio Kelinci, Cap Ji Gwee, 27 Da Han, 2562 Imlek


Khamis, 18 Shafar 1433 Hijriyah


Itulah sejumlah pertanda bahwa lahirnya (baca: Oek... Oekk...) Blog ini tepat pada tanggal dan hari yang baik. Semoga menjadi Blog yang sholeh, baik hati, suka membantu, dan berguna bagi nusa dan bangsa. Amin.

Kamis, 12 Januari 2012

Apa Anda Sadar dan Sabar?

Anda yang telah membuka Blog ini telah tertipu mentah-mentah...

Anda kira di sini terdapat banyak tulisan saya?

Kenapa anda begitu mudah saya tipu?

...

...

...

...

...

...

Sekali lagi anda tertipu...

Memang benar di sini terdapat banyak tulisan...

Tapi belum saya terbitkan...

Jadi saya harap anda bersabar...

Sabar...

Sabar...

Sabar...

Orang sabar dadanya lebar...

Orang sabar minum Tolak Angin...

 Orang sabar apapun makanannya minumnya Teh Botol Sosro...

Orang sabar disayang tuhan... :)
Jadi, tunggu yah...
Awas kalau tidak sabar...!