Senin, 23 Juli 2012

Melati



Jika dulu aku melati bagimu, mengapa engkau memilih mawar?
Aromaku jauh lebih wangi, kau tahu kan?
Kau sudah merasakannya.
Aku ingat hirupanmu di atas kelopakku yang mekar saat itu.
Helaan napas menyesakkanku, meninggalkan aromamu di tubuhku.
Terasa masih kemarin sore, bahkan matahari belum sampai ufuk barat.
Angin baru saja membawa kabarku padamu, tertulis lepas melayangkan takdir.
Bukan maksudku menunjukkan padamu, kelopakku telah layu, putikku tak tahu harus menerima benang sari yang mana lagi.
Kamboja yang memiliki aroma menyengat, sama denganku, dia bilang kuharus terus tumbuh, hidup di jalan ini tidaklah mudah, aku harus selalu menatap matahari, dan bulan jadi penuntunku di kala gelap.
Suatu saat kan terjadi, meski kutahu yang baik mendapat yang terbaik, begitupun sebaliknya, aku terima, asal hanya aku, jangan yang lain, jangan kerabatku, jangan sahabatku.
Aku akan mengambil peran Pendeta dan Lalim bagi mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar