Jumat, 20 Juli 2012

Buku Harian Malaikat Terbuang


Sorak sorai langit bergemuruh mengiringi kami, pejalan yang mencari padang rumput penuh ceria.Hujan tidak membiarkan kami kuyup, hanya tetes bunga air menyentuh wajah dan tangan, Aku di depan mengepakkan sayap agar ia terhindar dari serbuan angin.

Rambutnya terbuai mesrah melambai-lambai ke samping kiri, tak terasa jantungku hampir diraihnya.
Aku menolak pada diriku, mencoba menyadarkan peranku sebagai malaikat terbuang yang butuh pengampunan dan tak ingin dijebloskan dalam neraka.
Tekanan udara semakin rendah kala kami berdiri di antara gunung dan dataran tinggi, saatnya berjalan menyusuri lembah yang dituju.
Dingin es yang membeku kami nikmati sambil berjalan mengitari lembah yang masih sunyi karena kami terlalu pagi.
Ada beberapa Nephilium muda yang berpapasan dengan kami, Ia hanya menebar senyuman.
Muncul sedikit kekhawatiran, apakah dia merasa tidak nyaman?
Masuklah kami dalam gua sebuah gunung yang tak terlalu tinggi, keaadan lebih hangat, Aku membuka mantel yang menempel di kulitku sejak fajar, sekaligus mengenalkan aroma tubuhku yang sesungguhnya.


Menikmati tanjakan dan turunan dengan sendau-gurau, melepas penat, sementara melihat para nephilium remaja dan manusia berantri untuk mendapat izin masuk gerbang kegelapan.
Aku berputar-putar mengawasi, apakah kami dikuntit?
Tidak, kami beruntung hari ini, tak ada rombongan penghulu malaikat yang beroprasi di sisa bulan ini, mereka bersiap menyambut bulan besar dan karnaval yang diikuti anak dan istrinya.
Pintu telah terbuka, Aku membiarkannya melewati Pos Goblin Penjaga yang dengan lengah menggeledah bawaan kami.
Aku membawa dua botol kecil air jeruk dari hutan Cafare, dekat dengan Countreze Tikato, ,maka kami diperbolehkan masuk.


Di dalam remang-remang cahaya langit kami menaiki tangga dan duduk di puncaknya.Hatiku terrasa bergetar.
Setiap kumenoleh ke arahnya, wajahnya bersinar.
Dengan rambut terurai panjang namun rapi dan dengan pakaian khas Nephilium remaja.
Setauku dia ras murni tanpa campuran darah manusia.


Betapa dia sadar pandanganku adalah curiga, dia hanya melayangkan senyum.
Aku berandai dia juga seorang malaikat,Aku tak perlu dihukum menjaganya,
Aku bisa meminangnya,
Tapi tidak, aku akan melanggar sumpahku jika aku jatuh cinta lagi.
Dia begitu menikmati pemandangan indah yang terhampar dari puncak, pertarungan antar ksatria dengan tangan kosong sesuai keahliannya.
Aku iri, rindu masa-masaku sebagai malaikat suci, kini tiada lagi.
ekali lagi, Aku menikmati cahaya hangat itu, lembut menyeka mukaku yang kumal karna debu.
Dia menatapku, kami terdiam.
Apakah akan terjadi sebuah dosa besar yang apabila penghulu malaikat melihat, mereka akan menghukumku lebih berat lagi.
Aku memalingkan muka dengan cepat mengambil senyum, berharap dia sadar maksudku.
Dadaku semakin bergejolak saat tangan kami meremas rumput yang sama bersebelahanIngin kuraih dan kugenggam.
Lagi-lagi bayangan penghulu malaikat yang bermaksud menikmati sidang perkaraku datang lagi.
Aku merelakan anak panah Cupid yang terjatuh tanpa sempat terlontar, Meski menyisakan sesal.


Perjalan kami lanjutkan, tanpa diminta sudah kewajibanku mengantarnya pulang.
Kusadari, dalam sehari ini sangat sulit mengobarkan kebahagiaan di wajahnya, aku telah mencari celah yang dapat kumasuki untuk sekedar menanam benih agar Ia tak mengadukan yang tak pantas kepada penghulu malaikat, meski Ia bukan seorang pengedu, Aku takut.
Jalanan semakin ramai, ini adalah awal hari libur menjelang bulan besar, ada beberapa penghulu malaikat yang kukenal mengawasiku, mereka tahu aku sedang menjaga peri kecil ini, maka mereka sedikit menjaga jarak.
Aku tak memakai mantelku lagi, dinginnya langit masih menghargaiku, dan aku tak ingin identitasku mudah dikenali, meski sayap tak dapat kusembunyikan lebih dalam.Kami pulang, aku sedikit bingung dan tersesat karna jalan yang kami lewati berbeda.
Kami berputar-putar di sekitar gunung yang tak kukenal.
Dia benar-benar hafal lajur ini.Tak heran, meski dia masih muda, dia cukup tangguh dan berani mengarungi hari tanpa beban.


Aku tak mau mengantarnya hingga gelap, kaum vampir tak merelakan nephilium muda berkeliaran, apalagi aku hanya sendiri, tak akan mampu melawan makhluk buas yang biasa menyerang beregu.Butiran es telah jatuh, tanda bulan besar akan hadir dalam beberapa hari ini, suhu tubuhku naik, mencoba mengurangi efek dingin bunga air.
Kusadari waktuku bersamanya hanya tinggal beberapa menit.Dilema.Aku puaskan detik-detik ini, aku menoleh ke belakang punggungku, lagi-lagi aku hampir menerima tusukan panah sang Dewa CintaDewa Cinta tak perna mengira-ngira saat memilih targetnya, mereka hanya beralasan untuk mendamaikan dunia, tak peduli kadang cinta dapat menjadi alasan terbersitnya niat jahat. Manusialah buktinya.
Hanya terpaut beberapa menara dari kastilnya, aku lapar, hawa sejuk dan dingin memaksa metabolisme bekerja keras, aku memilih roti isi daging untuk menjaga tubuhku tetap hangat, tentu aku juga membungkuskan untuknya


Beberapa saat sang juru masak mengatur kandungan masakannya, aku bertanya kepada si peri kecil, mengapa memilihku menemaninya ketika banyak pilihan yang lebih elok, baik, dan tangguh untuk menjaganya.
Hatinya yang bersih tak sedikitpun teruji, dengan tenang menjelaskanya, sangat ringan, hampir tak ada alasan kuat, tapi aku tak pernah meragukannya.
Seraya meminta izin, kunikmati pemandangan yang jarang kutemui, dia tersipu malu, rambutnya tak lagi terurai karna kuncitnya.
 Matanya bersinar penuh kejujuran.Garis tawa yang selalu kurindukan.


Semua berakhir di dekat persimpangan dan jalur kereta di atasku, dia melambai melantunkan kata terima kasih dengan lembut, andai dia tau aku tak ingin pergi.
Aku membalik badan, tersenyum, dan melambai balik kepadanya penuh rasa tak rela meninggalkannya, meski kutahu dia akan aman di antara kehidupan pribadinya.


Aku kembali ke sebuah base tempatku tinggal sementara ini, karna aku tak punya tempat tinggal, aku malaikat terbuang.


Ada hal yang benar-benar terlupakan dan naif jika kuingkari, saat aku hanya khawatir Cupid melontarkan anak panahnya ke punggungku aku tak menjaga bagian tubuh depanku.dan panah Cupid telah menancap di jantungku sejak awal hariku bersama sang Peri kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar