Selamat malam! Selamat pagi!
Sapaan terhangat yang pernah aku ucapkan padamu.
Sehatkah kamu? Baikbaikkah kamu tanpa batang hidungku?
Aku pernah mendapat pesan,
kurang lebih seperti ini..
"Dosen sudah datang?", kemudian aku balas
"Sudah, duduklah langsung disebelahku"
Pintu kelas terbuka, terpampanglah dia disebelahku.
Begitu singkat, ya memang!
Itu sudah satu tahun yang lalu, atau mungkin lebih.
Kini kisah itu, terproyeksikan pada malam ini.
Berhambur denganmu, namun dengan latar yang berbeda.
Inilah tulisanku dalam tanda koma,
-3-
Oke, langsung ke intinya, tidakkah kau rasa ini main hati?
Sedari dulu
Aku yang mulai, apa perlu kuakhiri?
Diakhiri seperti apa?
Aku bahkan tak tahu arti kata akhir..karna pada akhir akan selalu ada awal yang baru..
Memang!
Betul katamu tadi, kita dekat namun jauh.
Entah jarak yang seperti apa, aku tak paham juga.
Apa yang kamu rasakan?
Sesuatu yang baru, namun berlangsung lama, seperti sesuatu yang sangat dewasa dan kita berhasil menjaganya.
:') *memejamkan mata*
Adakah resolusi darimu?
Aku hanya menjalani seperti biasa, menjaga sesuatu yang sudah ada walau terkadang terasa pahit.
Darimu?
Aku sependapat, tak akan berubah, seakan terpagut dalam balutan salju yang sangat dingin, setiap hari menahan semakin kuat.
Kukira aku berjuang sendiri, nyatanya bersama.
Terimakasih.
Kembali kasih..
Sekarang aku mengerti bahwa tak semua wanita itu tak mampu menjaga
hati pada tingkat yang lebih tinggi, selama ini aku meyakini hanya pria
yang mampu berlaku adil.
Tersenyumlah.
Kita hidup di dunia itu selalu dalam keseimbangan.
Yah :))
Aku sangat meyakini Tuhan Maha Asyik..
Apa aku pernah menyatakan rasa padamu? ._. Aku sampai lupa?
Baguslah.
Meski tak dinyatakan, itu sudah sangat jelas.
Hahaha..maafkanlah..
Tak ada mata yang mampu berdusta.
Benar sekali.
Bagaimana hidupmu?
Hidupku indah, tidak bagi keluargaku, kau tahulah kesedihanku pagi tadi..
Kesedihan yang mana? Aku tak tau
Aku hendak berkata, disusul air mata selalu, aku jadi tak mampu banyak berkata.
Ada apa?
Sebuah masalah klasik, antara kakak dan adik yang selalu salah.
Orientasi hedonis memenuhi otak mereka, ini berhubungan dengan cinta,
tak dapat diselaraskan dengan uang.
Tentang restu?
Aku cinta tempat ini, cinta semua yang kita lakukan bersama, tapi mereka selalu membandingkan dengan hasil.
Owh, ini yang sempat kau singgung tadi ya?
Jelaskan saja, kasih pengertian baik-baik.
Selaras dengan itu, pendidikanmu di bereskan, biar mereka bisa berfikir.
Ya benar.
Aku ingin semua ini segera usai, lalu aku bisa hidup dengan (sedikit) tenang..
Begitu rumitkah pihak keluarga? Sampai dilarang?
Apa maksudmu sedikit tenang?
Sangat rumit, kami bukan keluarga berlebih, banyak yang harus ditanggung, itu yang membuatnya rumit.
Sedikit tenang, aku masih memiliki tanggungan sebagai Koordinator Kesejahteraan di Organisasi.
Memang rumit kalo sudah berhadapan keluarga, yang jelas harus diseimbangkan antara pendidikan, keluarga, dan kegiatan.
Kamu itu, terlalu sibuk memang!
Hahaha..harus kusudahi setelah semua ini.
Beri aku saran yang paling mantap!
Saranku ya kamu harus tau kemampuanmu!
Beri ruang untuk dirimu sendiri.
Jangan terlalu memaksakan diri, biarkan semar dalam dirimu yang merajai.
Yah aku tahu, tapi kenapa jiwaku selalu gila berusaha meraih segalanya.
Gila seperti itu juga ada baiknya, tapi harus tau keadaan. Tak sembarang berlakuan gila.
Hahahaha okelah, akan kucoba :D
-2-3-
Hei, apa yang terjadi denganmu?
Saya bermimpi kamu diculik.
Diculik siapa?
Seorang yang aneh, merasa iri padaku, atau benci padamu. Sebelum kau
diculik, kita melewati banyak waktu berdua, bahkan kejadiannya di
rumahku.
Seperti apa mimpinya? Boleh aku tau?
Kita mengawali dengan kebahagiaan, kau mengenakan gaun putih yg
indah, aku mengajakmu berlari dari kerumunan, mencoba menemukan
ketenangan. Tibalah di sebuah rumah, terdapat penjahit, tukang sepatu,
dan banyak lagi. Aku melepaskan genggaman tangan kita, aku merasa sangat haus, lalu aku
mengambil air ke dapur, dan saat kembali, kau telah pergi.
Kenapa begitu menyesakkan. Aku pergi kemana kira-kira? Kenapa aku merasa takut dengan mimpimu itu?
Aku tak tahu, sampai saat ini aku merasa sangat haus tentang hal itu. Kau diculik,
aku mencoba mengejar si penculik, hingga tiba di rumahku, aku diberi
tahu bahwa si penculik adalah seorang yang lama dikenal olehku, di mimpiku
dia sangat sakti.
Siapa dia? Apa benar dia yang menculikku? Bagaimana jika kau yang menculikku?
-3-2-
Sudah pagi lagi, masa yang rumit ini berhasil kita lewati. Sejak kita dipertemukan kembali di sebuah proses ini, aku tak henti-hentinya bersyukur karna telah diberikan keberkatan pernah merasakan perasaan yang super-duper aneh ini. Harusnya kaupun begitu.
Setidaknya manusia memiliki cinta, meski tak mungkin satu, tak harus pula bersatu. Setidaknya aku mencintaimu, meski tak bisa melupakan dia, aku tak bisa merelakannya.
Bagaimana kabar masa depan?
Aku banyak menghabiskan waktu bersama kekasihku, begitupun denganmu, mungkin aku lebih banyak. Aku lebih banyak memproyeksikan setiap rasa yang muncul dengan membentuk realita.
Lalu apa yang terjadi setelah ini?
Jarak kembali menjarak.
Aku berharap aku segera lupa, tak bisa lagi menanamnya, menghapus setiap jejaknya.
Cintaku padamu segera kubalut mesrah dengan cintanya.
bagaimana jika semua yang kau tulis adalah fakta?
Selasa, 12 Februari 2013
Bi kepada La (Balada Romansa Bi)
Sudah lama
Ribuan jiwa kulampaui
Ribuan cinta kuhinggapi
Tak ada yang seperti ini
Aku bercengkrama
Ini akan memakan hari
Ini akan menyita hati
Tak pernah selama ini
Berawal senja
Pasca jam pulang sekolah
Pasca jam usai kuliah
Tak mungkin selain ini
Berlanjut kencan
Lebih tepatnya pertemuan biasa
Lebih pantas hanya pertemanan
Tak mau selesai di sini
Cemburu pertama
Aku lupa tepatnya
Sepertinya sebelum kencan
Tak mau menyerah karna ini
Dilema kisah
Pernah hadir yang sekejap
Tapi tak dapat merusak
Tak mau ubah keyakinan ini
Dilema kasih
Pernah ada yang hilang
Tapi tak dapat mengulang
Tak mau ganti arah ini
Ciuman pertama
Hadir dalam keheningan
Melekat kuat tanpa serat
Tak mau lepas bibir ini
Hari selanjutnya
Dalam bayang kemegahan
Baju pengantin lekas dikenakan
Tak mau terburu-buru
Ribuan jiwa kulampaui
Ribuan cinta kuhinggapi
Tak ada yang seperti ini
Aku bercengkrama
Ini akan memakan hari
Ini akan menyita hati
Tak pernah selama ini
Berawal senja
Pasca jam pulang sekolah
Pasca jam usai kuliah
Tak mungkin selain ini
Berlanjut kencan
Lebih tepatnya pertemuan biasa
Lebih pantas hanya pertemanan
Tak mau selesai di sini
Cemburu pertama
Aku lupa tepatnya
Sepertinya sebelum kencan
Tak mau menyerah karna ini
Dilema kisah
Pernah hadir yang sekejap
Tapi tak dapat merusak
Tak mau ubah keyakinan ini
Dilema kasih
Pernah ada yang hilang
Tapi tak dapat mengulang
Tak mau ganti arah ini
Ciuman pertama
Hadir dalam keheningan
Melekat kuat tanpa serat
Tak mau lepas bibir ini
Hari selanjutnya
Dalam bayang kemegahan
Baju pengantin lekas dikenakan
Tak mau terburu-buru
Laraku
Andai aku tahu rasa sakit itu dari dulu
Ialah sekarang
Bukanlah perpisahan raga
Bukanlah kematian raga
Inilah perpisahan cinta
Semoga bukan kematian cinta
***
Ialah sekarang
Bukanlah perpisahan raga
Bukanlah kematian raga
Inilah perpisahan cinta
Semoga bukan kematian cinta
***
Rabu, 15 Agustus 2012
Aku (Jika Menjadi Aku)
Terlalu sering aku mengaku-aku, sudah saatnya aku berujar sebagai aku, maka hayati aku yang kali ini.
Aku akan sangat jujur pada aku-mu.
Aku bukanlah makhluk dingin, aku tak terlalu suka darah dalam daging yang kumakan.
Aku juga bukan makhluk panas, aku biasa menyeduh cokelat sebelum tidur.
Aku bukanlah makhluk terang, aku lebih suka menatap bulan dalam kesendirian.
Akupun bukan makhluk gelap, aku selalu butuh cahaya penuntun saat berjalan.
Aku bukanlah makhluk keras, aku bertutur dengan badan menunduk sambil tersenyum.
Dan aku bukan makhluk halus, aku bisa tergerak saat tersentuh.
Aku selalu bermimpi, bagiku hidup ini memang mimpi, kenyataannya adalah aku yang selalu sedang bermimpi.
Aku terus berpikir untuk aku, aku-mu, dan aku-aku yang lain, meski tak selalu harus berdarah.
Kadang aku bergejolak, beradu dengan aku-aku yang lain, tapi aku tidak akan selalu, aku selalu berusaha selalu bernafas untuk aku-mu dan aku-aku mereka.
Soal kepercayaanku, aku percaya aku tak abadi, bahkan dalam keabadian aku tak mungkin abadi. Tinggal bagaimana membuat hidup ini berarti.
Hubunganku dengan penciptaku?
Itu bukan urusan aku yang lain, bahkan aku-mu.
Aku memilih bungkam saat ditanya hal itu.
Aku lebih dekat dengan-Nya dalam urusanku.
Senin, 06 Agustus 2012
Masih Tujuh Tahun Lagi
Masih tujuh tahun lagi,
Saat anakmu mungkin sudah dua,
Saat kau sudah resmi jadi pengacara atau jaksa,
Saat kusadari kau cinta terindah.
Masih tujuh tahun lagi,
Saat giliranku menafkahi,
Saat keponakanku mungkun sudah delapan atau sembilan,
Saat aku menemukan tambatan hati.
Masih tujuh tahun lagi,
Saat aku bertemu denganmu,
Saat canggung menyapu rindu,
Saat dilema menerpa haru lembutmu.
Masih tujuh tahun lagi,
Saat Kau dipertemukan denganku,
Saat semua menjadi kepasrahan,
Saat mimbar dan lambaian gaun mesrah.
Saat anakmu mungkin sudah dua,
Saat kau sudah resmi jadi pengacara atau jaksa,
Saat kusadari kau cinta terindah.
Masih tujuh tahun lagi,
Saat giliranku menafkahi,
Saat keponakanku mungkun sudah delapan atau sembilan,
Saat aku menemukan tambatan hati.
Masih tujuh tahun lagi,
Saat aku bertemu denganmu,
Saat canggung menyapu rindu,
Saat dilema menerpa haru lembutmu.
Masih tujuh tahun lagi,
Saat Kau dipertemukan denganku,
Saat semua menjadi kepasrahan,
Saat mimbar dan lambaian gaun mesrah.
Sepertiku (Jika Menjadi Aku)
Aku melihatmu seperti melirikmu,
Aku mengataimu seperti mengutukmu,
Aku memperlakukanmu seperti membencimu,
Aku memimpikanmu seperti mendendammu.
Itulah aku,
Aku seperti aku,
Saat aku seperti aku,
Seperti aku yang aku-aku,
Seperti aku yang kuaku,
Seperti seperti aku yang aku,
Seperti aku yang seperti aku,
Seperti aku yang seperti kuaku.
Seperti itulah hanya seperti,
Seperti itulah, Sayang.
Defisitku (Jika Menjadi Aku)
Sadarlah,
Kita masih dalam masa integral,
Bahkan menyentuh marjinal terasa tak mungkin,
Jika masih tampak rupamu, ini akan semakin terjal.
Defisit!
Beberapa saat lagi akan melilit.
Ini semakin sulit,
Karna mereka pelit,
Mereka sengaja buat kita pailit,
Hingga tak mampu lagi berkelit.
Dengar anjing menggonggong,
Berarti sudah manjing,
Jangan makan lagi, bodong!
Seperti maling mencuri guci kosong.
Kau wartakan gonjang-ganjing pada selongsong.
Jika mau seperti yang kemarin hiduplah dalam mimpi!
Seperti kan hanya seperti,
Seperti yang tertulis sebelum ini.
Langganan:
Komentar (Atom)