Selasa, 21 Februari 2012

Sepenggal Kisah Kupu-kupu: Awal dan Mungkin Akhir

Gambaran, kata yang tepat untuk mengawali semua yang akan mengikuti. Ini adalah awal yang saat itu kukira akhir. Menjalaninya benar menyenangkan, melewatinya sungguh menyesakkan. Tak ada yang kumengerti dari semua itu, semoga aku dapat petunjuk.
Aku duduk di bangku depan kelasku, saat jam pelajaran kosong senada dengan pikiranku. Kesepian karna teman akrabku sedang memasuki masa rajinnya di sekolah, padahal tak seru jika masa sekolah menengah hanya untuk belajar. Aku menemukan tantangan, sejenak terpikir itu tidak pantas disebut tantangan karena rasa itu benar-benar suci. Kupandang seorang gadis, tak kusebut bidadari karna hanya melebih-lebihkan, tapi dia adalah Berlian.

Bukanlah cinta pada pandangan pertama, aku tahu itu. Selama hidupku aku tidak mempercayai kalimat itu, kupikir itu adalah sebuah omong kosong, cinta pada pandangan pertama adalah birahi, busuk meski sedap di luar. Maka kunyatakan ini bukanlah cinta.

Sempurna sekali, malam ini aku tak bisa tidur seperti biasa, kenyamananku lenyap di hasut pikiranku yang hanya terfokus pada Berlian. Pikiranku lebih terbuka, aku bisa merencanakan semua yang akan kulakukan esok untuk sekedar bercengkrama dengannya, mungkin ada sekitar satu juta langkah ke depan. Dan malamku berakhir di titik pada angka III di jam dinding kamarku.

Tepat seperti perkiraanku sebelum terlelap, aku akan bangun saat matahari hampir setinggi gunung Mahameru.

Yah, sepatu yang kupakai tak lagi sepasang karna sepasangnya lagi tertahan di pos satpam. Mana mungkin aku menemui Berlian dengan keadaan seperti anak pemulung yang baru menemukan sepatu dari keranjang bapaknya. Seonggok gengsi memenuhi perasaan yang belum pernah kuturuti. Aku melawan rasa takutku dengan didorong rasa gengsi yang lebih takut malu jika bertemu dengan Berlian dalam keadaan seperti ini. Kucuri sepotong sepatuku yang lain disaat si satpam lengah, kini aku siap bertemu dengannya.

Seorang sahabat tak akan meninggalkan temannya dalam kesusahan, pernyataan klasik itu seolah menjadi kebenaran yang mutlak pada waktu itu. Sahabatku, Suki (bukan perempuan), siap menghantarkanku pada pujaanku, lebih tepatnya aku berjalan sendiri menapaki hamparan paving dan dia hanya memelototiku. Bagus.

Ini adalah kesempatan besar, hanya aku yang berada di Toserba usaha sekolah ini. Sudah hampir satu tahun aku bekerja disini, namun baru kali ini merasakan manfaat terbesarnya. Apabila dia datang, dengan leluasa aku bisa melayani segala yang dia minta.

Dan dia datang, segeralah keringat mengucur deras memenuhi selakanganku karena yang di tangan dan dahiku telah kuusap dengan sapu tangan, dia tak sendirian, tapi aku merasa kami hanya berdua, tatapan tajam kami beradu saat dia berjalan semakin dekat, aku yakin dia merasakan apa yang kurasa. Sungguh egois, aku tak menghiraukan yang lain, aku hanya menghormatinya, melupakan kodrat bahwa aku harus melayani setiap pelanggan dengan penuh suka cita. Aku berhasil menarik perhatiannya.

Hari demi hari terasa sama, namun bisa dibilang ada kemajuan dalam diriku, aku jadi lebih semangat bekerja disaat jam istirahat sekolah, tentunya juga lebih sering bertemu dengannya. Walaupun posisi kami sangat berbeda, aku di dalam dan dia di luar, aku memberi, aku meminta, dia memberi, dan kadang aku memberi.

Malam kuhabiskan hanya untuk berpikir, bukan untuk pelajaran sekolah, aku menuju kehancuran.


Senin, 06 Februari 2012

Puisi (7)

Hedonisme Modern

Sikap yang sangat aneh
Lebih dingin daripada salju
Kadang panas bagai padang pasir
Membuatku merasa hina

Setiap ku mencoba
Tak pernah ada beda
Hanya lara yang terasa
Dan semakin membuatku hancur

Cuaca saat ini sangat hangat
Pie ini tampak lezat
Menciumnya saja sangat menyenangkan
Namun ini tak bertahan lama

Hedonisme orang tua t'lah menghancurkan kita
Mereka lupa akan cinta
Apa kau akan tetap setia?
Meski kaki slalu mencucurkan darah
Sampai jantung t'lah terhenti

Harapan hanya angan kosong
Tanpa cinta yang sepenuhnya
Tercurah untuk seorang kekasih
Jangan menahan rasa itu

Lebih baik kau segera tentukan
Antara cinta dan dunia
Ketenangan atau keserakahan
Daripada hanya tergantung di jemuran usang

Puisi (6)

Hari Kehilangan

Hari-hariku tetap hampa semenjak hari itu
Hari dimana dia tinggalkanku
Hari itu ku sadari kesalahanku di hari yang lalu
Hari dimana ku menyia-nyiakan dirinya

Kehilangan sangat menyedihkan
Kehilangan membuahkan penyesalan
Kehilangan menyadarkan kekhilafan
Kehilangan membuat ingin 'tuk mengulang

Puisi (5)

Intervensi Masa Depan

Dengan segala bentuk motivasi
Berlawan arah dengan tujuan
Ingin diri membangkang
Merasa benar di setiap alasan

Benar apa yang mereka katakan
Tak seharusnya ego menguasai diri
Tinggi hati akan menghancurkan
Dari sisi yang sangat halus

Turuti setiap bantuan
Berat berjalan paksa berlari
Menuju esok yang cerah bagi semua
Sebuah intervensi terhadap masa depan

Puisi (4)

Semakin

Semakin dilihat
Semakin ngeri, mengerikan
Hingga tak sanggup berkedip mata
Membuat kata kecil manis didengar

Semakin mendekat
Semakin geli, menggelikan
Hingga menggelitik ke dalam jantungku
Membuat letupan kecil manis dalam dada

Semakin diacuhkan
Semakin menjadi, menjadi-jadi
Hingga tak sanggup pergi
Membuat penjara kecil manis dalam hati

Semakin menjauhi
Semakin rindu, merindukan
Hingga menusuk ke dalam jantungku
Membuat goresan kecil manis berarti

Semakin aneh
Semakin indah
Semakin sayang
Semakin ingin memperjuangkan.

Puisi (3)

Menyulam dalam masa pembelajaran
Bertemu di setiap kesempatan
Dia mengalir di depan dua mata
Menimbulkan rintihan sambil meronta
Kau lihat itu sebagai tanda

Hanya Ada Satu

Mata-mata sahabat
Menyela takdir yang tertulis indah
Persaudaraan tak diberi tahu olehnya
Hingga mencari ke rana warna
Kau rasa itu bangga

Tak peduli harus menanti zaman
Yang kian lama kian mencekam
Semakin tertanam dan bertunas
Untuk mencari sebersit sinar
Kau tiup kesedihan mereka

Sebagai saudara hanya bisa memberi pilihan
Meskipun akhirnya tak dihiraukan
Selama itu bisa menjadi kebahagiaan
Menarilah sehingga kau lepas

Mungkin memang hanya satu
Atau ada seribu kupu-kupu lepas di taman
Namun memang hanya satu
Pilihan tak mungkin salah

Jika sulit kau pahami arti kataku
Cobalah bertanya pada hatimu
Hanya satu yang ku mau
Suatu saat kita menari dengan tertawa lepas
Di bawah pelangi kejayaan

Puisi (2)

Eternal Promises

Well, now I standing beside you
Even the night's creaping into my eyes
And the fog follows behind
I swear,
No one's gonna break us

Let me take your hand
'Cause I'll run away from this darkness
I don't wanna let you down
I don't wanna pass you by
I just wanna be with you

If the sun shine brightly
Tomorrow we die
I'll be missing the memories
Together we'll start again
In the eternity life

Prosa (1)

Mencintai Teman

Sungguh malang nasibku
Merasa cinta pada temanku yang juga dicintai temanku

Jikalau terjadi, mampuslah diriku
Akan hilang kejantanan ini
Tahu kenapa?
Karna aku takkan merebut milik temanku
Tapi soal kompetisi aku takkan mengalah
Karna memang sudah jadi kesenanganku
Meskipun aku lebih memilih diam dan menunggu

Aku tak mau menjadi pacarnya
Karna menurutku mencintai tak harus menjadi pacar
"Pacar" tak lebih dari sebuah status yang rentan berubah menjadi "mantan"
Lebih baik biarkan masing-masing hati berbicara dengan caranya sendiri

Puisi (1)

 Sapa Siapa

Suara yang sangat indah
Berhentilah berteriak
Tak ada yang ingin mendengarmu

Siapakah dikau?
Sangat cantik
Ingat siapa
Siapa kau sebenarnya?

Bersembunyi dalam cermin
Menyelinap dalam ingatan
Bersembunyi dari keluargamu
Mereka tak ingin mengetahuimu sekarang

Pada setiap lubang dalam jiwa kita
Tiada perasaan
Siapakah dikau?
Yang sangat cantik