Gambaran, kata yang tepat untuk mengawali semua yang akan mengikuti. Ini adalah awal yang saat itu kukira akhir. Menjalaninya benar menyenangkan, melewatinya sungguh menyesakkan. Tak ada yang kumengerti dari semua itu, semoga aku dapat petunjuk.
Aku duduk di bangku depan kelasku, saat jam pelajaran kosong senada dengan pikiranku. Kesepian karna teman akrabku sedang memasuki masa rajinnya di sekolah, padahal tak seru jika masa sekolah menengah hanya untuk belajar. Aku menemukan tantangan, sejenak terpikir itu tidak pantas disebut tantangan karena rasa itu benar-benar suci. Kupandang seorang gadis, tak kusebut bidadari karna hanya melebih-lebihkan, tapi dia adalah Berlian.
Bukanlah cinta pada pandangan pertama, aku tahu itu. Selama hidupku aku tidak mempercayai kalimat itu, kupikir itu adalah sebuah omong kosong, cinta pada pandangan pertama adalah birahi, busuk meski sedap di luar. Maka kunyatakan ini bukanlah cinta.
Sempurna sekali, malam ini aku tak bisa tidur seperti biasa, kenyamananku lenyap di hasut pikiranku yang hanya terfokus pada Berlian. Pikiranku lebih terbuka, aku bisa merencanakan semua yang akan kulakukan esok untuk sekedar bercengkrama dengannya, mungkin ada sekitar satu juta langkah ke depan. Dan malamku berakhir di titik pada angka III di jam dinding kamarku.
Tepat seperti perkiraanku sebelum terlelap, aku akan bangun saat matahari hampir setinggi gunung Mahameru.
Yah, sepatu yang kupakai tak lagi sepasang karna sepasangnya lagi tertahan di pos satpam. Mana mungkin aku menemui Berlian dengan keadaan seperti anak pemulung yang baru menemukan sepatu dari keranjang bapaknya. Seonggok gengsi memenuhi perasaan yang belum pernah kuturuti. Aku melawan rasa takutku dengan didorong rasa gengsi yang lebih takut malu jika bertemu dengan Berlian dalam keadaan seperti ini. Kucuri sepotong sepatuku yang lain disaat si satpam lengah, kini aku siap bertemu dengannya.
Seorang sahabat tak akan meninggalkan temannya dalam kesusahan, pernyataan klasik itu seolah menjadi kebenaran yang mutlak pada waktu itu. Sahabatku, Suki (bukan perempuan), siap menghantarkanku pada pujaanku, lebih tepatnya aku berjalan sendiri menapaki hamparan paving dan dia hanya memelototiku. Bagus.
Ini adalah kesempatan besar, hanya aku yang berada di Toserba usaha sekolah ini. Sudah hampir satu tahun aku bekerja disini, namun baru kali ini merasakan manfaat terbesarnya. Apabila dia datang, dengan leluasa aku bisa melayani segala yang dia minta.
Dan dia datang, segeralah keringat mengucur deras memenuhi selakanganku karena yang di tangan dan dahiku telah kuusap dengan sapu tangan, dia tak sendirian, tapi aku merasa kami hanya berdua, tatapan tajam kami beradu saat dia berjalan semakin dekat, aku yakin dia merasakan apa yang kurasa. Sungguh egois, aku tak menghiraukan yang lain, aku hanya menghormatinya, melupakan kodrat bahwa aku harus melayani setiap pelanggan dengan penuh suka cita. Aku berhasil menarik perhatiannya.
Hari demi hari terasa sama, namun bisa dibilang ada kemajuan dalam diriku, aku jadi lebih semangat bekerja disaat jam istirahat sekolah, tentunya juga lebih sering bertemu dengannya. Walaupun posisi kami sangat berbeda, aku di dalam dan dia di luar, aku memberi, aku meminta, dia memberi, dan kadang aku memberi.
Malam kuhabiskan hanya untuk berpikir, bukan untuk pelajaran sekolah, aku menuju kehancuran.
Seorang sahabat tak akan meninggalkan temannya dalam kesusahan, pernyataan klasik itu seolah menjadi kebenaran yang mutlak pada waktu itu. Sahabatku, Suki (bukan perempuan), siap menghantarkanku pada pujaanku, lebih tepatnya aku berjalan sendiri menapaki hamparan paving dan dia hanya memelototiku. Bagus.
Ini adalah kesempatan besar, hanya aku yang berada di Toserba usaha sekolah ini. Sudah hampir satu tahun aku bekerja disini, namun baru kali ini merasakan manfaat terbesarnya. Apabila dia datang, dengan leluasa aku bisa melayani segala yang dia minta.
Dan dia datang, segeralah keringat mengucur deras memenuhi selakanganku karena yang di tangan dan dahiku telah kuusap dengan sapu tangan, dia tak sendirian, tapi aku merasa kami hanya berdua, tatapan tajam kami beradu saat dia berjalan semakin dekat, aku yakin dia merasakan apa yang kurasa. Sungguh egois, aku tak menghiraukan yang lain, aku hanya menghormatinya, melupakan kodrat bahwa aku harus melayani setiap pelanggan dengan penuh suka cita. Aku berhasil menarik perhatiannya.
Hari demi hari terasa sama, namun bisa dibilang ada kemajuan dalam diriku, aku jadi lebih semangat bekerja disaat jam istirahat sekolah, tentunya juga lebih sering bertemu dengannya. Walaupun posisi kami sangat berbeda, aku di dalam dan dia di luar, aku memberi, aku meminta, dia memberi, dan kadang aku memberi.
Malam kuhabiskan hanya untuk berpikir, bukan untuk pelajaran sekolah, aku menuju kehancuran.