Senin, 23 Juli 2012

Melati



Jika dulu aku melati bagimu, mengapa engkau memilih mawar?
Aromaku jauh lebih wangi, kau tahu kan?
Kau sudah merasakannya.
Aku ingat hirupanmu di atas kelopakku yang mekar saat itu.
Helaan napas menyesakkanku, meninggalkan aromamu di tubuhku.
Terasa masih kemarin sore, bahkan matahari belum sampai ufuk barat.
Angin baru saja membawa kabarku padamu, tertulis lepas melayangkan takdir.
Bukan maksudku menunjukkan padamu, kelopakku telah layu, putikku tak tahu harus menerima benang sari yang mana lagi.
Kamboja yang memiliki aroma menyengat, sama denganku, dia bilang kuharus terus tumbuh, hidup di jalan ini tidaklah mudah, aku harus selalu menatap matahari, dan bulan jadi penuntunku di kala gelap.
Suatu saat kan terjadi, meski kutahu yang baik mendapat yang terbaik, begitupun sebaliknya, aku terima, asal hanya aku, jangan yang lain, jangan kerabatku, jangan sahabatku.
Aku akan mengambil peran Pendeta dan Lalim bagi mereka.

Buku Harian Malaikat Terbuang (Bag. 2)



Demamku telah turun, aku mulai terjaga, sinar yang terang menghalangi terbukanya mataku.
Aku turun dari tempat tidurku, masih mengucek mata menuju kolam muka di belakang gubuk, terasa ada yang kurang.

Setelah meneguk susu sapi yang hendak menjadi yoghurt sejak kemarin, kubuka jendela, kesegaran hutan mengoyak pori-pori wajahku. Segarnya.

Sarapan hari ini roti gandum panggang dan telur mata sapi setengah matang, hanya kubumbui garam dan merica, aromanya cukup menggoda. Masih terasa ada yang kurang.

Sambil mengunyah roti panggangku aku menata kembali otakku, apa yang memaksa kukeluarkan dari brangkas memoriku?
Gumpalan ingatan yang rumit mendobrak otakku hingga tubuhku terjatuh, aku berusaha bertahan dengan ingatan akan orang tuaku, saudaraku, dan tentu saja seorang yang menganggapku kekasihnya. Sakit sekali, andai aku bisa menghapusnya, akan kuhapus yang terakhir. Dan masih terasa kurang.

Aku keluar dari pintu sambil menoleh ke belakang, ada sebuah jam matahari yang belum bekerja dengan normal, aku terbang setinggi 700 kaki, lalu melihat hamparan horison yang memisahkan langit dengan bumi, warna oranye menguasai angkasa di depanku dan biru gelap di belakangku, matahari belum juga menampakkan rupanya.

Aku melayang sebentar merasakan tubuhku hangat di bagian depan dan dingin di belakang, kucoba lagi mencari sesuatu yang terlupakan. Sesaat melihat ke bawah, anak-anak nephilium berlarian menuju sungai, mereka di suruh oleh ibunya untuk mengambil air. Jalanan mulai ramai dengan bergeraknya para troll jinak yang menarik kereta. Aku melayangkan pandangan ke kota yang dikelilingi gunung, semua ingatan yang tadi terkengkang melahap ketahanan pikiranku.
***

Aku mulai terjatuh dari ketinggian di bawah 500 kaki setelah bergelut selama 3 menit dengan ingatan itu, aku benar-benar tak sadarkan diri, aku bermimpi.

Aku bersama Chelvyá, peri kecilku, dia menarik tanganku, membimbingku menuju labirin bunga eidelweis setinggi 160cm, dia berhenti bersama turunnya lambaian rambut lembutnya.

Dia melepas genggamannya, memberiku satu isyarat, aku tak mendengar apapun karna suara angin sangat kencang menutup telingaku, dia berlari, aku berpikir dia memintaku mengejarnya, maka kukejarlah.

Mudah sekali, karna aku lebih tinggi dari labirin ini, aku masih bisa melihat rambutnya yang terbang saat berlari kesana-kemari. Jalur yang Ia lalui semakin rumit. Aku menjaga jarak dan tetap waspada, kulihat badai mendekat dengan kecepatan tinggi ke arah kami, aku mencoba menegurnya untuk ikut aku terbang menyelamatkan diri, hingga tampak Ia menoleh ke kanan-kiri karena bingung harus memilih jalan yang mana, aku mendekatinya tanpa suara.

Aku menepuk punggungnya, dia tak menoleh, tak ada gunanya memanggil namanya dengan suara angin sekeras ini. Kutepuk untuk kedua kalinya, dia masih enggan menoleh, tanganku masih di pundaknya, dan kami berada di tengah labirin yang cukup luas, kira-kira 1km persegi.

Sesaat terdengar teriakan histeris beberapa ibu-ibu yang memekakan telinga, kemudian jantungku berdegup sangat kencang melebihi hantaman kaki kuda Pensylvania saat dipacu pemburu hadiah. Aku memaksanya membalikkan badan, suara teriakan itu makin keras, makin sakit terasa, dan tubuhnya berbalik kehadapanku, wajahnya telah berubah, dia bukan Chelvyá, dia Royce, seorang malaikat terbuang yang ditolak permohonan izinnya untuk berdampingan denganku, namun dia masih mengharapkanku.

Aku membuka mata, terlihatlah tanah yang hanya berjarak 10kaki dari tempatku terjun dengan kecepatan tinggi, kecil kemungkinanku berakhir hidup, paling tidak aku menderita cacat permanen.

Aku menutup mata, berharap ini takkan lama, setelah itu.

Byuuuurrr...
Empat orang petani telah menahan gempuran gravitasi dengan air dan tenaga dalam mereka sehingga menimbulkan gaya pegas dan tubuhku mampu ditahan mereka.
Aku selamat.

Darah terasa memenuhi otak dan hidungku saat aku dibopong empat petani itu, aku dibawa ke rumahku.

"Tidurkan aku di tempat tidurku, dan terima kasih banyak, aku berhutang nyawa." Lalu mereka beranjak pergi melihat keadaanku membaik.

Agak sulit bergerak setelah mataku terbuka kali ini, aku memaksakan berjalan ke dapur, berharap ada sisa makanan karna bulan sudah hampir redup. Aku pingsan sejak pagi hingga tengah malam.
Tak ada makanan, aku keluar dari dapur menuju ruang tamu, lebih tepatnya ruang kosong, berharap ada sisa makanan ringan yang kudapat dari kota kemarin. Kunyalakan lampu.

Betapa terkejutnya aku melihat sosok Royce tertidur lelap di atas karpet rumput lautku. Dia menggenggam sekantong roti isi cokelat dan sebotol air soda, kenapa harus dia yang datang menolongku di saat aku sangat dekat dengan teman-temanku.

Jika kuambil, dia akan bangun. Jika tidak, aku harus pergi beratus-ratus blok untuk membelinya sendiri dan meninggalkannya sendiri.

Nurani mengatakan tidak, pilihan ini sangat sulit, perutku lapar, kesadaranku berkurang. Aku tak mau banyak berbincang di malam ini.

Kuambil saja pelan-pelan, berharap dia tak terjaga. Kuangkat tangannya dan melepas jari-jarinya, kemudian mengambil kantong itu, kemudian menggantinya dengan kantong yang lain sambil mengawasi apakah Ia akan terbangun kaget. Dia masih tertidur.

Aku membawa roti-roti itu ke ruang makan, dan memakannya dengan cepat.

"sudah kuduga kau kelaparan, ada sebotol air soda di dalam kantong itu, nikmatilah!"
Aku menoleh ke belakang, terlihat Royce menyibakkan kelambu sambil berjalan kembali ke ruang tamu.
"Terima kasih, tidurlah di kasurku, besok pagi saja kau pulang." Sahutku, mencoba bersikap baik.

"Tanpa kau suruh akan kulakukan, wanita gila macam apa yang hendak pulang di tengah malam begini?" dia masih menjawab, kupikir dia enggan menjawab karna kejadian yang menimpa kami.

Setelah melahap roti dari Royce, aku pergi ke kamar bermaksud mengambil bantal kayu sponku dan selimut.

Dia memakai setengah dari keduanya seakan memberiku ruang untuk tidur di sampingnya. Mana mungkin.

Kukunci pintu depan dengan berbagai jebakan sekedar menambah rasa aman, lalu kembali ke tempat tidur, aku hanya duduk, tidur seharian membuatku kehilangan minat untuk tidur lagi. Apalagi ada Royce di sampingku.

Selang lima menit berlalu, kesadaranku memudar, aku merasa dingin yang luar biasa, aku terpaksa berselimut bersama Royce. Sesaat kemudian panas menerjang, tak sanggup aku menahan, kubuka seluruh penutup tubuhku. Darah memuncaki kepalaku, perasaan aneh mulai muncul, bulu romaku terasa lebih sensitif, semua bagian tubuhku menegang, Royce mendekapku di tempat tidur, dan.

***

Ayam berkokok.
Aku membuka mata, kusadari aku tak berbusana, baju dan celanaku tergeletak di bawah ranjangku, tak kutemui sosok Royce di sampingku, hanya sepucuk surat yang diselipkannya di bawah bantal, kubuka sepucuk surat tersebut.

"Yang tercinta, Ayrton Ray.

Masa demi masa t'lah kita lalui bersama, bahagia dan sedih, senang dan sakit. Bayangan masa depan yang kuidamkan kini penuh penyesalan, tak ada gunanya memaksa, kau dengan kedok orang tuamu t'lah mencintai yang lain, kau tak akan lari bersamaku.

Ray, maafkan aku, aku selalu ingin hidup denganmu, dengan keadaan seperti biasa tak akan mungkin, maka aku telah menyiapkan segalanya, aku akan membesarkan bakal janin ini, lalu ku rawat bakal bayi ini, dan kutemani tumbuh-kembangnya agar aku tetap merasa berada dekat denganmu.

Ray, aku mencintaimu dengan segala semesta alam, menyayangimu dengan luasnya lautan, dan membutuhkanmu layaknya bumi mengitari matahari.

Selamat tinggal.

Yang mencinta,
Royce Ashtiná."

"Sial, aku terjebak!" Dia memasukkan obat bius di air soda yang kuminum, tanpa sadar aku telah menghamilinya.

Bagaiman jika dia menceritakan semua ini kepada orang tuaku, saudaraku, apalagi penghulu malaikat. Mereka tak akan segan memenjarakanku seumur hidup, perzinahan di kalangan malaikat adalah hal yang terburuk dari yang terburuk.

Bagaimana jika anaknya lahir dan tak tahu siapa orang tuanya?
Bagaimana jika sang anak tahu kebenaran ayahnya tak mungkin mengakuinya?
Bagaimana aku bisa hidup tenang di antara semua masalah ini?
...

Roooooooyyyce...!!!

Jumat, 20 Juli 2012

Toilet



Duduk bersimbah peluh dalam bilik kegelisahan. .
Menatap atas tanpa batas. .
Melihat bawah hanya terpana. .

Jatuh satu demi satu kehangatan dari dalam diri. .
Melihat ke depan pintu kebahagiaan. .
Melihat ke belakang tembok tebal. .

Ku tekan tombol penghapus kenikmatan. .
'tuk membersihkan sisa hak orang. .
Karna tak layak ku nikmati semuanya. .

Ku basuh sambil ku seka. .
Hingga tak tersisa kebusukan di jiwa. .
Dan nyawa terasa berjaya. .
Haaahhhh....puasnya...

Orang(wanita) Malam



Engkau melayap di tengah malam
Meraup harta dari jalanan

Jika setiap mengadu semakin diadu
Jadi domba berselimut madu
Memang manis
Memang gurih
Dengan potongan tipis mengembang-mengempis
Hati terasa pahit tak digubris

Sampai kapan hidup merana di rana warna yang kelam?
Kenapa tidak mencoba menyalakan lampu atau bangun di pagi hari yang cerah?
Biar embun menyapu dosamu
Meredakan api hawa nafsumu

Pelayat telah menunggu di rumahmu
Bersiap mengadukan ibadahmu

Hingga nanti terbangun di hari tanpa malam
Kau akan mendapatkan segalanya
Jalanan itu takkan kau lihat lagi
Kasur butut tempatmu bergelutpun raib
Akan nyatakan segala ibadahmu di malam hari

Buku Harian Malaikat Terbuang


Sorak sorai langit bergemuruh mengiringi kami, pejalan yang mencari padang rumput penuh ceria.Hujan tidak membiarkan kami kuyup, hanya tetes bunga air menyentuh wajah dan tangan, Aku di depan mengepakkan sayap agar ia terhindar dari serbuan angin.

Rambutnya terbuai mesrah melambai-lambai ke samping kiri, tak terasa jantungku hampir diraihnya.
Aku menolak pada diriku, mencoba menyadarkan peranku sebagai malaikat terbuang yang butuh pengampunan dan tak ingin dijebloskan dalam neraka.
Tekanan udara semakin rendah kala kami berdiri di antara gunung dan dataran tinggi, saatnya berjalan menyusuri lembah yang dituju.
Dingin es yang membeku kami nikmati sambil berjalan mengitari lembah yang masih sunyi karena kami terlalu pagi.
Ada beberapa Nephilium muda yang berpapasan dengan kami, Ia hanya menebar senyuman.
Muncul sedikit kekhawatiran, apakah dia merasa tidak nyaman?
Masuklah kami dalam gua sebuah gunung yang tak terlalu tinggi, keaadan lebih hangat, Aku membuka mantel yang menempel di kulitku sejak fajar, sekaligus mengenalkan aroma tubuhku yang sesungguhnya.


Menikmati tanjakan dan turunan dengan sendau-gurau, melepas penat, sementara melihat para nephilium remaja dan manusia berantri untuk mendapat izin masuk gerbang kegelapan.
Aku berputar-putar mengawasi, apakah kami dikuntit?
Tidak, kami beruntung hari ini, tak ada rombongan penghulu malaikat yang beroprasi di sisa bulan ini, mereka bersiap menyambut bulan besar dan karnaval yang diikuti anak dan istrinya.
Pintu telah terbuka, Aku membiarkannya melewati Pos Goblin Penjaga yang dengan lengah menggeledah bawaan kami.
Aku membawa dua botol kecil air jeruk dari hutan Cafare, dekat dengan Countreze Tikato, ,maka kami diperbolehkan masuk.


Di dalam remang-remang cahaya langit kami menaiki tangga dan duduk di puncaknya.Hatiku terrasa bergetar.
Setiap kumenoleh ke arahnya, wajahnya bersinar.
Dengan rambut terurai panjang namun rapi dan dengan pakaian khas Nephilium remaja.
Setauku dia ras murni tanpa campuran darah manusia.


Betapa dia sadar pandanganku adalah curiga, dia hanya melayangkan senyum.
Aku berandai dia juga seorang malaikat,Aku tak perlu dihukum menjaganya,
Aku bisa meminangnya,
Tapi tidak, aku akan melanggar sumpahku jika aku jatuh cinta lagi.
Dia begitu menikmati pemandangan indah yang terhampar dari puncak, pertarungan antar ksatria dengan tangan kosong sesuai keahliannya.
Aku iri, rindu masa-masaku sebagai malaikat suci, kini tiada lagi.
ekali lagi, Aku menikmati cahaya hangat itu, lembut menyeka mukaku yang kumal karna debu.
Dia menatapku, kami terdiam.
Apakah akan terjadi sebuah dosa besar yang apabila penghulu malaikat melihat, mereka akan menghukumku lebih berat lagi.
Aku memalingkan muka dengan cepat mengambil senyum, berharap dia sadar maksudku.
Dadaku semakin bergejolak saat tangan kami meremas rumput yang sama bersebelahanIngin kuraih dan kugenggam.
Lagi-lagi bayangan penghulu malaikat yang bermaksud menikmati sidang perkaraku datang lagi.
Aku merelakan anak panah Cupid yang terjatuh tanpa sempat terlontar, Meski menyisakan sesal.


Perjalan kami lanjutkan, tanpa diminta sudah kewajibanku mengantarnya pulang.
Kusadari, dalam sehari ini sangat sulit mengobarkan kebahagiaan di wajahnya, aku telah mencari celah yang dapat kumasuki untuk sekedar menanam benih agar Ia tak mengadukan yang tak pantas kepada penghulu malaikat, meski Ia bukan seorang pengedu, Aku takut.
Jalanan semakin ramai, ini adalah awal hari libur menjelang bulan besar, ada beberapa penghulu malaikat yang kukenal mengawasiku, mereka tahu aku sedang menjaga peri kecil ini, maka mereka sedikit menjaga jarak.
Aku tak memakai mantelku lagi, dinginnya langit masih menghargaiku, dan aku tak ingin identitasku mudah dikenali, meski sayap tak dapat kusembunyikan lebih dalam.Kami pulang, aku sedikit bingung dan tersesat karna jalan yang kami lewati berbeda.
Kami berputar-putar di sekitar gunung yang tak kukenal.
Dia benar-benar hafal lajur ini.Tak heran, meski dia masih muda, dia cukup tangguh dan berani mengarungi hari tanpa beban.


Aku tak mau mengantarnya hingga gelap, kaum vampir tak merelakan nephilium muda berkeliaran, apalagi aku hanya sendiri, tak akan mampu melawan makhluk buas yang biasa menyerang beregu.Butiran es telah jatuh, tanda bulan besar akan hadir dalam beberapa hari ini, suhu tubuhku naik, mencoba mengurangi efek dingin bunga air.
Kusadari waktuku bersamanya hanya tinggal beberapa menit.Dilema.Aku puaskan detik-detik ini, aku menoleh ke belakang punggungku, lagi-lagi aku hampir menerima tusukan panah sang Dewa CintaDewa Cinta tak perna mengira-ngira saat memilih targetnya, mereka hanya beralasan untuk mendamaikan dunia, tak peduli kadang cinta dapat menjadi alasan terbersitnya niat jahat. Manusialah buktinya.
Hanya terpaut beberapa menara dari kastilnya, aku lapar, hawa sejuk dan dingin memaksa metabolisme bekerja keras, aku memilih roti isi daging untuk menjaga tubuhku tetap hangat, tentu aku juga membungkuskan untuknya


Beberapa saat sang juru masak mengatur kandungan masakannya, aku bertanya kepada si peri kecil, mengapa memilihku menemaninya ketika banyak pilihan yang lebih elok, baik, dan tangguh untuk menjaganya.
Hatinya yang bersih tak sedikitpun teruji, dengan tenang menjelaskanya, sangat ringan, hampir tak ada alasan kuat, tapi aku tak pernah meragukannya.
Seraya meminta izin, kunikmati pemandangan yang jarang kutemui, dia tersipu malu, rambutnya tak lagi terurai karna kuncitnya.
 Matanya bersinar penuh kejujuran.Garis tawa yang selalu kurindukan.


Semua berakhir di dekat persimpangan dan jalur kereta di atasku, dia melambai melantunkan kata terima kasih dengan lembut, andai dia tau aku tak ingin pergi.
Aku membalik badan, tersenyum, dan melambai balik kepadanya penuh rasa tak rela meninggalkannya, meski kutahu dia akan aman di antara kehidupan pribadinya.


Aku kembali ke sebuah base tempatku tinggal sementara ini, karna aku tak punya tempat tinggal, aku malaikat terbuang.


Ada hal yang benar-benar terlupakan dan naif jika kuingkari, saat aku hanya khawatir Cupid melontarkan anak panahnya ke punggungku aku tak menjaga bagian tubuh depanku.dan panah Cupid telah menancap di jantungku sejak awal hariku bersama sang Peri kecil.