Demamku telah turun, aku mulai terjaga, sinar yang terang menghalangi terbukanya mataku.
Aku turun dari tempat tidurku, masih mengucek mata menuju kolam muka di belakang gubuk, terasa ada yang kurang.
Setelah meneguk susu sapi yang hendak menjadi yoghurt sejak kemarin, kubuka jendela, kesegaran hutan mengoyak pori-pori wajahku. Segarnya.
Sarapan hari ini roti gandum panggang dan telur mata sapi setengah matang, hanya kubumbui garam dan merica, aromanya cukup menggoda. Masih terasa ada yang kurang.
Sambil mengunyah roti panggangku aku menata kembali otakku, apa yang memaksa kukeluarkan dari brangkas memoriku?
Gumpalan ingatan yang rumit mendobrak otakku hingga tubuhku terjatuh, aku berusaha bertahan dengan ingatan akan orang tuaku, saudaraku, dan tentu saja seorang yang menganggapku kekasihnya. Sakit sekali, andai aku bisa menghapusnya, akan kuhapus yang terakhir. Dan masih terasa kurang.
Aku keluar dari pintu sambil menoleh ke belakang, ada sebuah jam matahari yang belum bekerja dengan normal, aku terbang setinggi 700 kaki, lalu melihat hamparan horison yang memisahkan langit dengan bumi, warna oranye menguasai angkasa di depanku dan biru gelap di belakangku, matahari belum juga menampakkan rupanya.
Aku melayang sebentar merasakan tubuhku hangat di bagian depan dan dingin di belakang, kucoba lagi mencari sesuatu yang terlupakan. Sesaat melihat ke bawah, anak-anak nephilium berlarian menuju sungai, mereka di suruh oleh ibunya untuk mengambil air. Jalanan mulai ramai dengan bergeraknya para troll jinak yang menarik kereta. Aku melayangkan pandangan ke kota yang dikelilingi gunung, semua ingatan yang tadi terkengkang melahap ketahanan pikiranku.
***
Aku mulai terjatuh dari ketinggian di bawah 500 kaki setelah bergelut selama 3 menit dengan ingatan itu, aku benar-benar tak sadarkan diri, aku bermimpi.
Aku bersama Chelvyá, peri kecilku, dia menarik tanganku, membimbingku menuju labirin bunga eidelweis setinggi 160cm, dia berhenti bersama turunnya lambaian rambut lembutnya.
Dia melepas genggamannya, memberiku satu isyarat, aku tak mendengar apapun karna suara angin sangat kencang menutup telingaku, dia berlari, aku berpikir dia memintaku mengejarnya, maka kukejarlah.
Mudah sekali, karna aku lebih tinggi dari labirin ini, aku masih bisa melihat rambutnya yang terbang saat berlari kesana-kemari. Jalur yang Ia lalui semakin rumit. Aku menjaga jarak dan tetap waspada, kulihat badai mendekat dengan kecepatan tinggi ke arah kami, aku mencoba menegurnya untuk ikut aku terbang menyelamatkan diri, hingga tampak Ia menoleh ke kanan-kiri karena bingung harus memilih jalan yang mana, aku mendekatinya tanpa suara.
Aku menepuk punggungnya, dia tak menoleh, tak ada gunanya memanggil namanya dengan suara angin sekeras ini. Kutepuk untuk kedua kalinya, dia masih enggan menoleh, tanganku masih di pundaknya, dan kami berada di tengah labirin yang cukup luas, kira-kira 1km persegi.
Sesaat terdengar teriakan histeris beberapa ibu-ibu yang memekakan telinga, kemudian jantungku berdegup sangat kencang melebihi hantaman kaki kuda Pensylvania saat dipacu pemburu hadiah. Aku memaksanya membalikkan badan, suara teriakan itu makin keras, makin sakit terasa, dan tubuhnya berbalik kehadapanku, wajahnya telah berubah, dia bukan Chelvyá, dia Royce, seorang malaikat terbuang yang ditolak permohonan izinnya untuk berdampingan denganku, namun dia masih mengharapkanku.
Aku membuka mata, terlihatlah tanah yang hanya berjarak 10kaki dari tempatku terjun dengan kecepatan tinggi, kecil kemungkinanku berakhir hidup, paling tidak aku menderita cacat permanen.
Aku menutup mata, berharap ini takkan lama, setelah itu.
Byuuuurrr...
Empat orang petani telah menahan gempuran gravitasi dengan air dan tenaga dalam mereka sehingga menimbulkan gaya pegas dan tubuhku mampu ditahan mereka.
Aku selamat.
Darah terasa memenuhi otak dan hidungku saat aku dibopong empat petani itu, aku dibawa ke rumahku.
"Tidurkan aku di tempat tidurku, dan terima kasih banyak, aku berhutang nyawa." Lalu mereka beranjak pergi melihat keadaanku membaik.
Agak sulit bergerak setelah mataku terbuka kali ini, aku memaksakan berjalan ke dapur, berharap ada sisa makanan karna bulan sudah hampir redup. Aku pingsan sejak pagi hingga tengah malam.
Tak ada makanan, aku keluar dari dapur menuju ruang tamu, lebih tepatnya ruang kosong, berharap ada sisa makanan ringan yang kudapat dari kota kemarin. Kunyalakan lampu.
Betapa terkejutnya aku melihat sosok Royce tertidur lelap di atas karpet rumput lautku. Dia menggenggam sekantong roti isi cokelat dan sebotol air soda, kenapa harus dia yang datang menolongku di saat aku sangat dekat dengan teman-temanku.
Jika kuambil, dia akan bangun. Jika tidak, aku harus pergi beratus-ratus blok untuk membelinya sendiri dan meninggalkannya sendiri.
Nurani mengatakan tidak, pilihan ini sangat sulit, perutku lapar, kesadaranku berkurang. Aku tak mau banyak berbincang di malam ini.
Kuambil saja pelan-pelan, berharap dia tak terjaga. Kuangkat tangannya dan melepas jari-jarinya, kemudian mengambil kantong itu, kemudian menggantinya dengan kantong yang lain sambil mengawasi apakah Ia akan terbangun kaget. Dia masih tertidur.
Aku membawa roti-roti itu ke ruang makan, dan memakannya dengan cepat.
"sudah kuduga kau kelaparan, ada sebotol air soda di dalam kantong itu, nikmatilah!"
Aku menoleh ke belakang, terlihat Royce menyibakkan kelambu sambil berjalan kembali ke ruang tamu.
"Terima kasih, tidurlah di kasurku, besok pagi saja kau pulang." Sahutku, mencoba bersikap baik.
"Tanpa kau suruh akan kulakukan, wanita gila macam apa yang hendak pulang di tengah malam begini?" dia masih menjawab, kupikir dia enggan menjawab karna kejadian yang menimpa kami.
Setelah melahap roti dari Royce, aku pergi ke kamar bermaksud mengambil bantal kayu sponku dan selimut.
Dia memakai setengah dari keduanya seakan memberiku ruang untuk tidur di sampingnya. Mana mungkin.
Kukunci pintu depan dengan berbagai jebakan sekedar menambah rasa aman, lalu kembali ke tempat tidur, aku hanya duduk, tidur seharian membuatku kehilangan minat untuk tidur lagi. Apalagi ada Royce di sampingku.
Selang lima menit berlalu, kesadaranku memudar, aku merasa dingin yang luar biasa, aku terpaksa berselimut bersama Royce. Sesaat kemudian panas menerjang, tak sanggup aku menahan, kubuka seluruh penutup tubuhku. Darah memuncaki kepalaku, perasaan aneh mulai muncul, bulu romaku terasa lebih sensitif, semua bagian tubuhku menegang, Royce mendekapku di tempat tidur, dan.
***
Ayam berkokok.
Aku membuka mata, kusadari aku tak berbusana, baju dan celanaku tergeletak di bawah ranjangku, tak kutemui sosok Royce di sampingku, hanya sepucuk surat yang diselipkannya di bawah bantal, kubuka sepucuk surat tersebut.
"Yang tercinta, Ayrton Ray.
Masa demi masa t'lah kita lalui bersama, bahagia dan sedih, senang dan sakit. Bayangan masa depan yang kuidamkan kini penuh penyesalan, tak ada gunanya memaksa, kau dengan kedok orang tuamu t'lah mencintai yang lain, kau tak akan lari bersamaku.
Ray, maafkan aku, aku selalu ingin hidup denganmu, dengan keadaan seperti biasa tak akan mungkin, maka aku telah menyiapkan segalanya, aku akan membesarkan bakal janin ini, lalu ku rawat bakal bayi ini, dan kutemani tumbuh-kembangnya agar aku tetap merasa berada dekat denganmu.
Ray, aku mencintaimu dengan segala semesta alam, menyayangimu dengan luasnya lautan, dan membutuhkanmu layaknya bumi mengitari matahari.
Selamat tinggal.
Yang mencinta,
Royce Ashtiná."
"Sial, aku terjebak!" Dia memasukkan obat bius di air soda yang kuminum, tanpa sadar aku telah menghamilinya.
Bagaiman jika dia menceritakan semua ini kepada orang tuaku, saudaraku, apalagi penghulu malaikat. Mereka tak akan segan memenjarakanku seumur hidup, perzinahan di kalangan malaikat adalah hal yang terburuk dari yang terburuk.
Bagaimana jika anaknya lahir dan tak tahu siapa orang tuanya?
Bagaimana jika sang anak tahu kebenaran ayahnya tak mungkin mengakuinya?
Bagaimana aku bisa hidup tenang di antara semua masalah ini?
...
Roooooooyyyce...!!!