Sepenggal Kisah Kupu-kupu
Sudah satu tahun aku lulus dari SMA, padahal sudah hampir
empat tahun, tapi kehampaan ini tak kunjung pergi. memang belum saatnya
kupu-kupu ini terbang kembali.
Kusebut diriku kupu-kupu karna
tersirat jiwa yang bebas dalam hatiku, berhak memilih udara yang
kuterbangi, namun setelah mati tiga setengah tahun yang lalu, aku
kembali menjadi telur, berharap akan segera bertransformasi kembali
menjadi kupu-kupu yang dapat terbang bebas dan memilih bunga yang tepat
untuk dihinggapinya selama hidupnya, sekali lagi namun, aku tak dapat
lepas dari kepompongku, suatu belenggu darinya, bunga yang kupuja tiap
hembusan nafasku, yang kuingat dalam gegap gembiraku, bunga yang telah
memilih kupu-kupu yang lain.
Sejenak
aku berani mencoba, walau kutahu rasanya takkan sama, bahkan lebih
buruk. Tak seprti bunga Berlian itu, bunga yang lain tak memiliki
pantulan sinar maupun karat yang membedakan cantiknya. Sebuah
kesombongan tuk mencintainya hingga kini.
Sebuah
pagi yang cerah, aku disibukkan dengan pekerjaan ringan, usaha
keluargaku. Benar, aku belum kuliah, memilih untuk mengabdi karena ujian
masuk perguruan tinggi t'lah ditutup, aku gagal pada tes pertama dan
ragu lulus dari yang ke dua, maka aku menunggu tahun depan agar dapat
mencoba yang pertama lagi. Si Cantik datang, namanya Cantik sejak lahir
dianugerahkan oleh bibi-ku, dia membawa temannya, tapi tidak dengan
dijinjing. Fokusku bukanlah padanya, tmannya sukses mengalihkan
pandanganku. Wajahnya sangat bulat, matanya indah merona, bibir tipis
terangkat seolah ingin beradu cumbu, laki-laki mana yang tidak tertarik
dengan sejumlah pheromone yang jatuh dari tubuhnya, sungguh kukira aku telah terlahir kembali.
Tanpa
terasa sayapku telah terkembang indah, aku rasa aku siap menerbangkan
kembali jiwaku yang kosong. Ratu, dia bunga pertama yang ingin kucoba
hisap madunya, menawarkan ramuan manis yang memabukkanku, seketika itu
aku tak sadarkan diri, dia pasrahkan segalanya untukku, dia berikan
secara PMR yang membantu korban bencana alam (baca: sukarela). Namun
bukan itu yang aku inginkan, yang aku inginkan adalah Madu ketulusan,
sebuah wujud cinta abadi nan elok, indah merekah menebarkan wangi dalam
jiwa, mensucikan hati, dan terjaga rapat. Apa ada kata yang tepat selain
'gagal'?
Kutinggalkan Ratu
untuk terbang berkelana kembali di udara segar kebun bungaku. Hingga aku
memilih terbang keluar dari pagar rumahku, seolah tiada lagi yang
seperti bunga berlian itu di sini. Ku jalani setiap waktu dengan
membasuh mataku dengan suguhan panorama indah kota-ku yang dikelilingi
gunung merapi yang tinggi menacap di langit, aku tak bisa membayangkan
jikalau semua gunung itu meletus secara bersamaan, seluruh kota ini dan
kota-kota tetangga pasti menjadi hamparan debu menyelip di antara pasir.
Setelah
hampir 30 kali lebih lama dari masa hidup kupu-kupu aku berkelana
mencari bunga yang tepat untuk kuhinggapi, aku pulang ke kota lamaku.
Aku teingat masa sekolahku di SMA, kala itu aku bertemu seorang gadis,
juga teman dari si Cantik, dari sebuah jejaring sosial, dan aku tahu dia
juga menyimpan rasa kepadaku karna sejatinya aku yang tertarik lebih
dulu kepadanya, namun belum sanggup mengungkapkannya, seketika itu aku
memiliki angan-angan untuk kembali mengenalnya, mencoba merayunya untuk
kembali beradu untaian kata kasih sayang layaknya di masa SMA dulu.
Gadis itu bernama Lily, cocok dengan filosofiku terhadap bunga yang
menggambarkan seorang gadis, dia masih di kota ini, sejengkalpun tak
beranjak dari sejak kami pertama kali bertemu.
Kuawali
masa-ku dengannya dengan sebuah pesan singkat yang dengan cepat ia
balas, dia yang semula ragu akan perasaanku padanya, sedikit demi
sedikit luluh atas pengakuanku tentang sulitnya lepas dari kepompong
masa laluku, lalu kubawa lari ia mengitari kaki gunung merapi yang
terdekat dari kota tinggal kami, kubuat dia merasa senyaman mungkin
bersamaku, dan akhirnya kunyatakan perasaanku padanya. Sangat simple
juga mengena. Di hadapan air terjun yang menampar kerasnya batuan
vulkanik bekas letusan gunung merapi kami menyaksikan cinta kami.
Beberapa
momen indah semerbak merasuki jalan ceritaku, berharap ini dapat
selamanya kurasakan, tapi tidak juga. Hanya dengan satu deburan ombak,
remuklah karang yang t'lah kurawat bersama Lily. Ombak itu ialah teman,
aku menyesali betapa bodohnya aku yang tak menyadari ini sebelumnya.
Lily
adalah bunga pujaan teman baikku, dia kupu-kupu yang lebih segar
dariku, namun keberhasilannya jauh di atasku. Aku merasa hina telah
merebut pujaan hatinya, bukannya aku tak mau mempertahankan cintaku dan
cintanya, namun rasanya pasti sungguh sakit jika aku yang berada dalam
posisinya berpijak. Anganku memintaku 'tuk melakukan sesuatu yang dapat
mensterilkan ini semua.
Sesuai
rencanaku, tahun berikutnya aku tidak gagal lagi dalam tes masuk
universitas. Momen yang tepat, aku harus meninggalkan Lily bersama kota
tinggalku dan seorang sahabat. Aku tidak tahu apa cara ini benar, namun
saat ini hanya ada satu pilihan, maka aku memilihnya. Semoga dengan ini
aku berhasil melepaskan belenggu rasa bersalah atas mereka berdua.
Kini
aku memulai kembali kehidupanku di kota yang baru, dengan teman baru
dan kehampaan yang baru. Beberapa cerita tentang Berlian akan terus
tertulis, mungkin di lain waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar