Terlalu sering aku mengaku-aku, sudah saatnya aku berujar sebagai aku, maka hayati aku yang kali ini.
Aku akan sangat jujur pada aku-mu.
Aku bukanlah makhluk dingin, aku tak terlalu suka darah dalam daging yang kumakan.
Aku juga bukan makhluk panas, aku biasa menyeduh cokelat sebelum tidur.
Aku bukanlah makhluk terang, aku lebih suka menatap bulan dalam kesendirian.
Akupun bukan makhluk gelap, aku selalu butuh cahaya penuntun saat berjalan.
Aku bukanlah makhluk keras, aku bertutur dengan badan menunduk sambil tersenyum.
Dan aku bukan makhluk halus, aku bisa tergerak saat tersentuh.
Aku selalu bermimpi, bagiku hidup ini memang mimpi, kenyataannya adalah aku yang selalu sedang bermimpi.
Aku terus berpikir untuk aku, aku-mu, dan aku-aku yang lain, meski tak selalu harus berdarah.
Kadang aku bergejolak, beradu dengan aku-aku yang lain, tapi aku tidak akan selalu, aku selalu berusaha selalu bernafas untuk aku-mu dan aku-aku mereka.
Soal kepercayaanku, aku percaya aku tak abadi, bahkan dalam keabadian aku tak mungkin abadi. Tinggal bagaimana membuat hidup ini berarti.
Hubunganku dengan penciptaku?
Itu bukan urusan aku yang lain, bahkan aku-mu.
Aku memilih bungkam saat ditanya hal itu.
Aku lebih dekat dengan-Nya dalam urusanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar