Jumat, 22 Juni 2012

Mantraku

Aku
Uka kau
Kau uka aku
Uka kau
Aku

Kau
Uka aku
Aku uka kau
Uka aku
Kau

Uka
Kau aku
Uka aku kau
Aku kau
Uka

Sakitku

Benar-benar kegelapan cinta.
Tusukannya terlampau dalam.
Mana bisa kuhindari, rasa sepi menggerogoti, hati ini sunyi.
Tak rela, sumpah setitikpun tak ada keikhlasan walau baru kemarin belajar.

Hey, kalau tidak cinta, disebut apa lagi ini?
Bayangan buruk, biadap, beringas lelaki itu mencumbumu tak mau pergi.
Aku menikmatinya disaat makan hingga muntah, di saat merenung hingga melamun, dan di saat terpejam hingga terjaga.

Aku melawan kelemahan, semakin melawan aku semakin hancur.
Aku menghalau kepedihan, semakin menghalau aku semakin rapuh.

Jikalau garis hitam tebal dapat terhapus, maka nama dan angka akan menyatu kembali.
Aku berserah sekarang, bukan menyerah!

Saat kau membaca ini, tak kuharap kau bersedih, prihatin, dan merana melihatku.
Aku berserah untuk menang.

Sejatiku

Petang menyambar kulitku
Aku duduk menanti kabar baik
Tiba-tiba tersirat di antara bayang-bayang kebesaran
Menunduk malu melewati lorong kecil istanaku
Peri kecil cantik yang menyembunyikan aurora di balik wajahnya

Aku menanti saat yang tepat
Kabarkan kepada angin malam
Kepada tuhan
Aku menginginkanmu
Bibirku kaku

Dadaku melantunkan melodi kisah cinta dengan ketukan 4/4
Lirik-lirik lembut mengalir dalam angan menjebloskan aku dalam penjara imaji
Meruntuhkan semua perih

Para penghulu malaikat menatapku keji
Aku melihat potongan-potongan sayapku di balik tubuhku
Aku tak pantas lagi menyandang nama besar kerajaan matahari
Butuh seumur hidup untuk mekar kembali

Hanya
Dengan kelemahan aku menyayangimu
Dengan kerendahan aku mengharapkanmu
Dengan harapan aku mencintaimu
Takkan mampu mengimbangimu